Ruang Kaji

Ruang kaji merupakan program yang berfokus pada riset, pengembangan wacana, dan produksi pengetahuan di bidang seni rupa. Ruang ini hadir sebagai respons atas kebutuhan perupa muda akan akses informasi yang kredibel, kontekstual, dan mudah dijangkau. Dalam praktik seni, kemampuan berkarya tidak hanya ditentukan oleh keterampilan teknis, tetapi juga oleh kedalaman pemahaman terhadap sejarah, teori, isu sosial, serta perkembangan seni kontemporer.

Melalui Ruang Kaji, Ruang Segiempat mendorong budaya membaca, menulis, dan berpikir kritis di kalangan perupa muda. Program ini berisi berbagai informasi dalam bentuk tulisan seperti artikel kajian seni, esai reflektif, ulasan pameran, bahkan catatan proses artistik yang telah di riset sebelumnya. Konten yang dihasilkan tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga analitis, dengan tujuan membuka ruang diskusi dan memperkaya sudut pandang pembaca terhadap praktik seni rupa. Bahasa yang digunakan menggunakan bahasa yang komunikatif agar dapat menjangkau audiens lebih luas.

The Article Highlights

Searsa Maheswari Searsa Maheswari

Menemukan Jalan Untuk Menjadi Perupa

Seni rupa memiliki ekosistem kerja yang sangat dinamis, sekaligus menantang. Munculnya pikiran seperti merasa terlalu tua untuk memulai, tidak punya waktu, atau takut investasi waktu dan modalmu terbuang sia-sia itu wajar saja jika membuat perupa sering merasa gelisah memikirkan masa depan karier.

Menjadi seorang perupa berarti berani menciptakan sesuatu yang bermakna bagi diri sendiri terlebih dahulu, lalu menentukan ke mana karya itu akan melangkah. Proses kreatif ini memang lambat, membingungkan, dan butuh waktu. Kadang kamu bingung harus berjalan kaki mencari inspirasi seperti Thoreau, atau berdiam diri menikmati keheningan seperti Monet. Di tengah kebingungan mencari jati diri, gangguan sekecil apa pun bisa membuyarkan konsentrasi. Namun, di bawah semua keraguan itu, kamu tahu bahwa kunci sukses adalah menjadi diri sendiri.

Mereka yang tidak punya panggilan jiwa yang kuat tidak akan tahan dengan kehidupan seorang perupa yang dilingkari ketidakpastian. Walaupun teorinya semua orang punya passion, pada kenyataannya in this economy, orang-orang selalu berebut pekerjaan demi mendapatkan penghasilan tetap. Tidak semua orang punya nyali untuk konsisten mengikuti passion tersebut.

Menurut pengalaman perupa senior R.E. Hartanto, karier seorang perupa itu berjalan secara berjenjang. Tahap pertama berada di tingkat nasional yang meliputi pusat seni seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Tahap berikutnya berlanjut ke tingkat regional Asia Tenggara yang mencakup Jakarta, Singapura, dan Manila. Titik-titik ini bisa Kamu sebut sebagai fase awal karier (early career).

Jenjang ini akan meluas ke tingkat regional Asia yang mencakup kota-kota besar seperti Beijing, Seoul, Gwang-ju, Tokyo, Yokohama, Fukuoka, Taipei, Shanghai, hingga Hong Kong. Fase ini disebut sebagai paruh karier (mid-career). Jika cakupan wilayah meluas lagi ke Asia-Pasifik, Kamu akan menambahkan kota Sydney, Melbourne, dan Brisbane dalam radar pameranmu. Puncaknya adalah tingkat internasional yang mencakup wilayah Eropa Barat dan kota-kota utama di Amerika Serikat. Ini merupakan fase puncak karier (top-career) seorang perupa.

Namun, jenjang karier ini tentu tidak selalu berjalan linear. Tidak apa-apa jika para perupa muda harus menempuh rute memutar dulu untuk bertahan hidup sambil terus belajar. Kamu bisa memilih bekerja di industri kreatif lain terlebih dahulu, dan setiap pilihan pekerjaan ini sebenarnya membawa keuntungan tersendiri untuk perkembangan senimu.

Misalnya, saat menjadi seorang artisan untuk seniman senior, para perupa muda bisa melatih sensibilitas artistik sekaligus membedah teknik studio tingkat lanjut secara langsung. Ketika memilih menjadi desainer grafis atau ilustrator korporat, para perupa muda mendapatkan kesempatan untuk melatih kedisiplinan eksekusi visual, belajar membaca selera publik, serta memahami manajemen proyek yang rapi. Sementara jika menjadi pengajar seni, para perupa muda bisa mengasah kembali pemahaman teoritis dan sejarah seni yang justru bisa memperkaya konsep karyamu sendiri.

Pekerjaan-pekerjaan ini memang berfungsi sebagai modal utama untuk mengumpulkan dana demi keberlangsungan karya pribadi. Namun lebih dari itu, bekerja di ranah komersial juga otomatis memperluas jaringan profesionalmu dengan orang-orang di luar sirkel seni rupa murni. Kamu tidak akan kehilangan identitas seni hanya karena bekerja di ranah ini.

Mari coba membaca ringkasan cerita perjalanan hidup sang maestro Affandi.

Affandi lahir di Cirebon pada tahun 1907 sebagai anak dari keluarga Kusuma. Ayahnya bekerja sebagai juru gambar peta tanah di sebuah pabrik gula di Cirebon. Masa kecil Affandi dipenuhi dengan petualangan khas anak kampung yang menyukai gerak dan tantangan, seperti bermain layang-layang, menonton sepak bola, dan mengagumi seni pertunjukan wayang kulit. Kedekatannya dengan dunia wayang kulit membuatnya sangat hafal dengan tokoh-tokohnya. Di antara semua karakter, ia paling mengidentifikasi dirinya dengan tokoh Sukosrono, sosok berwajah buruk rupa dan cacat namun memiliki hati jujur serta kesaktian yang luar biasa.

Affandi menempuh pendidikan dasar di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Indramayu dan lulus pada tahun 1925. Ia kemudian melanjutkan sekolah ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Bandung. Setelah lulus dari MULO pada tahun 1928, ia pindah ke Jakarta untuk belajar di Algemeene Middelbare School (AMS) bagian B. Selama bersekolah, fokus Affandi lebih banyak tercurah pada bakat menggambarnya daripada pelajaran akademis. Hasratnya yang menggebu-gebu untuk memperdalam ilmu seni rupa di Negeri Belanda harus kandas karena tidak mendapat restu dari kakaknya, Ir. Moh. Sabur. Kekecewaan ini menurunkan gairah belajarnya hingga ia gagal dalam ujian akhir AMS pada tahun 1931. Affandi akhirnya memilih untuk berhenti sekolah dan membulatkan tekad untuk hidup mandiri sebagai seorang seniman.

Perjalanan hidup Affandi sebagai pelukis tidak instan karena ia merupakan seorang otodidak murni tanpa latar belakang pendidikan akademi seni. Demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, ia sempat berkompromi dengan keadaan melalui berbagai pekerjaan. Ia pernah mengajar membaca dan menulis huruf latin di sebuah sekolah malam di Jakarta, tempat ia bertemu dengan Maryati yang kemudian menjadi istrinya pada tahun 1933. Pasangan ini kemudian pindah ke Bandung. Di kota tersebut, Affandi bekerja keras sebagai tukang cat papan nama toko, pembuat reklame bioskop, hingga menjadi portir di bioskop Elita. Melalui kedisplinan tinggi, ia membagi waktu sepuluh hari pertama setiap bulan untuk bekerja mencari uang, dan sisa hari dalam sebulan ia gunakan sepenuhnya untuk mengasah teknik melukisnya.

Titik terang dalam karier seninya mulai terlihat saat ia mengadakan pameran tunggal di Jakarta pada tahun 1940. Salah satu lukisannya dibeli oleh Safei Sumardjo, seorang pelukis lulusan Eropa, yang meramalkan bahwa Affandi memiliki masa depan cerah sebagai seniman. Komentar tersebut membakar semangat Affandi untuk terus berkarya tanpa takut pada kemiskinan. Bersama anak dan istrinya, ia kemudian pergi ke Bali untuk menangkap berbagai dinamika visual di sana. Kehidupan di Bali sempat terjeda saat Maryati jatuh sakit parah akibat salah suntik, yang memaksa mereka pindah ke Surabaya demi pengobatan. Di Surabaya, Affandi kembali bekerja sebagai buruh gambar reklame dan portir bioskop demi menyambung hidup. Setelah kondisi istrinya membaik, Affandi kembali ke Bali sendirian untuk mematangkan bakat seninya hingga masa pendudukan Jepang dimulai.

Pengalaman hidup yang penuh lika-liku, kedekatan dengan rakyat kecil, serta kecintaannya pada ketegangan visual memberikan pengaruh yang sangat mendalam terhadap karya-karya Affandi. Corak lukisannya tidak mengikuti gaya pemandangan alam yang indah dan komersial seperti mayoritas pelukis zamannya. Sebaliknya, ia melahirkan karya-karya ekspresionisme yang jujur, menangkap gerak, kelincahan, serta penderitaan nyata masyarakat terjajah. Ketertarikannya sejak kecil pada wayang kulit memberikan pengaruh besar pada gaya goresannya, di mana garis-garis dalam lukisan Affandi cenderung bergelung-gelung menyerupai lekukan wayang kulit. Emosi Affandi yang meledak-ledak saat berhadapan langsung dengan objek nyata di alam terbuka membuatnya mengembangkan teknik melukis yang sangat khas, yaitu menyapu warna langsung menggunakan jari tangan dan menumpahkan cat langsung dari tubenya ke atas kanvas. Konsistensi dan adaptabilitasnya dalam berkarya membawanya menjadi salah satu maestro seni lukis terbesar Indonesia yang dikenal luas di panggung internasional.

Kesimpulannya, tidak ada satu formula tunggal untuk mencapai kesuksesan di dunia seni rupa. Kunci utama untuk tetap bertahan adalah adaptasi dan konsisten. Kamu bebas memilih jalur karier yang paling sesuai dengan kondisi finansial serta idealisme yang kamu pegang saat ini, lalu mulailah membangun koneksi secara perlahan.

Bimbingan dari mentor dan pendidikan seni memang penting, tetapi ingatlah bahwa ada sebuah karya luar biasa di dalam dirimu yang sedang menunggu untuk dilahirkan. Hanya kamu yang bisa menciptakan karya tersebut, dan kamu adalah orang terbaik untuk melakukannya. Saat ini, semua alat, akses informasi, dan sumber daya sudah tersedia di depan mata. Kita sedang hidup di era kemudahan akses yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kamu hanya perlu memberikan izin pada dirimu sendiri untuk berani melangkah dan mulai berkarya.

Sumber:

Suhatno, (1985) Dr. H. Affandi: karya dan pengabdiannya. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Jakarta.

How to be an Artist - by Tala Schlossberg

Menjadi Perupa Profesional – Klinik Rupa Dokter Rudolfo 

How to dream like an artist, market like a creator, and scale like a founder (without losing yourself along the way) 

"You can't be an artist" - by Julia Crossland 

Stop waiting for permission to call yourself an artist | by Mark Borthwick 

Read More
Searsa Maheswari Searsa Maheswari

Mengapa Karya AI Tidak Akan Pernah Bisa Membeli Jiwa

Kehadiran generatif AI memicu kecemasan para digital artist. Fenomena ini bukan sekadar ketakutan tanpa alasan. Salah satu kasusnya bahkan terjadi di Universitas Alaska Fairbanks. Seorang mahasiswa bernama Graham Granger ditangkap polisi karena mengunyah dan melumat puluhan gambar hasil AI milik mahasiswa lain di sebuah pameran seni. Aksi nekat ini menjadi simbol puncak kemarahan manusia terhadap mesin yang dianggap merebut ruang berekspresi.

Ribuan insan kreatif di seluruh dunia, mulai dari dunia seni rupa, film, musik, hingga penerbitan, secara terbuka menandatangani pernyataan sikap menolak penggunaan karya berhak cipta tanpa izin untuk melatih model AI generatif. Nama nama besar di dunia seni rupa seperti Amoako Boafo, Kennedy Yanko, Shantell Martin, Hans Haacke, hingga Deborah Butterfield turut berdiri di barisan ini. Mereka bersama para novelis ternama seperti Kazuo Ishiguro dan Margaret Drabble, serta musisi ikonik Robert Smith dan grup band Radiohead, menyuarakan hal yang sama, yaitu “pencurian karya berlisensi untuk melatih AI adalah ancaman besar yang tidak adil bagi mata pencaharian para pekerja kreatif.”

Pada 23 Desember 2023, media sosial X sempat diramaikan oleh gerakan masif dengan #TolakGambarAI. Melalui aksi digital ini, para seniman lokal bersatu mengumandangkan penolakan terhadap maraknya gambar berbasis AI di dunia maya. Pekerja seni menuntut adanya regulasi tegas, sekaligus mengedukasi masyarakat awam mengenai adanya pelanggaran hak cipta di balik aplikasi populer seperti Midjourney atau Dall.E. Platform platform tersebut diketahui telah menelan ribuan karya seniman tanpa izin sebagai bahan belajar mesin mereka. Hal yang membuat para seniman makin meradang adalah ketika gambar hasil ketikan AI tersebut mulai disalahgunakan untuk kebutuhan komersial hingga materi kampanye, menggeser posisi seniman manusia yang menggantungkan hidup dari sana.

Di Indonesia, situasinya mungkin bisa menjadi lebih kompleks bagi para perupa muda. Industri skala kecil, salah satu contohnya UMKM, cenderung memilih opsi instan yang murah atau bahkan gratis melalui generatif AI ini. Pada kondisi ini, generatif AI dapat menurunkan nilai ekonomi jasa desainer dan ilustrator secara drastis. Para penggiat kreatif di generasi milenial dan generasi Z mungkin sudah merasa jika ruang gerak untuk mendapatkan pekerjaan yang stabil pada hari ini rasanya semakin sulit, sedangkan nilai tawar terus tergerus oleh efisiensi.

Jika melihat hukum di Indonesia, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual atau DJKI menegaskan bahwa kekayaan intelektual adalah hak ekonomi yang lahir dari olah pikir manusia. Konsep orisinalitas dalam Undang-Undang Hak Cipta mensyaratkan adanya ciri khas pribadi yang hanya dimiliki manusia. Sedangkan AI memodifikasi karya terdahulu melalui mesin dan AI tidak memiliki value personal.

Mungkin agar lebih mudah dibayangkan, kita ambil contoh kasus hukum Naruto versus Slater pada tahun 2018 di Amerika Serikat. Seekor kera bernama Naruto mengambil kamera fotografer David Slater lalu tidak sengaja menekan tombol sehingga menghasilkan foto selfie dirinya. Saat itu, pengadilan memutuskan bahwa hewan tidak memiliki kedudukan hukum untuk memegang hak cipta. Pernyataan berhubungan dengan karya AI bukan buatan manusia, karya tersebut otomatis tidak memenuhi syarat orisinalitas. Karya AI tidak bisa dilindungi hak cipta di Indonesia. Siapa pun bisa menggunakan gambar hasil AI tanpa konsekuensi hukum.

Namun, persoalan hak cipta ini masih memicu munculnya masalah baru yang sangat abu-abu. Banyak perusahaan AI melatih algoritma mereka menggunakan jutaan karya seniman di internet tanpa izin, kompensasi, atau royalti. Seniman merasa gaya visual mereka dijiplak mesin tanpa izin, walaupun di satu sisi, sistem AI mengkalim jika AI tidak menyalin langsung melainkan belajar dari data. 

Di sinilah pro dan kontra itu hidup berdampingan. Pihak pro menganggap AI adalah alat bantu efisiensi. Pihak kontra melihatnya sebagai pencurian identitas kreatif.

Jika direnungkan lagi, seni memikat manusia karena seni menjadi jendela untuk melihat isi pikiran orang lain. Lukisan Vincent van Gogh dicintai karena memperlihatkan gejolak psikis dan keindahan dunia yang dia tangkap di tengah penderitaannya. Seni mengajarkan empati. Proses membentuk sudut pandang dan mengasah keterampilan itulah yang membuat seorang seniman menjadi seniman. Generatif AI tidak memiliki jiwa untuk melakukan itu.

Seni adalah jendela menuju pikiran orang lain. Seni mengajarkan kita tentang empati, sebuah aspek penting yang membuat manusia bisa bertahan hidup.

Ada bobot emosional yang mendalam ketika seseorang mengalami sesuatu, atau membayangkan sesuatu, lalu menuangkannya ke dalam karya. Bobot ini serupa dengan ketika kakek atau nenek para perupa muda menceritakan kisah masa lalu yang berharga bagi mereka, atau ketika seseorang membagikan pengalaman paling rentan dalam hidup mereka.

Inilah alasan utama mengapa seni buatan manusia akan terus bertahan dan bahkan berkembang di era AI. AI tidak bisa mengalami hidup untuk seni. Seni dalam bentuk terbaiknya adalah perwujudan dari pengalaman manusia yang paling berbobot secara spiritual. Kehebatan ini tidak bisa disederhanakan menjadi sekadar faktor teknis atau rumus matematika, karena seni adalah kehidupan itu sendiri. Semua seni memiliki tujuan moral untuk mengejutkan atau mendekatkan kita pada realitas dunia. Panggilan jiwa inilah yang membuat karya harus lahir dari tangan manusia agar terasa menarik dan bermakna.

Seni adalah cara kita tetap menjadi manusia. Bukan karena seni itu sempurna, tetapi karena seni itu tidak sempurna persis seperti kita. Bukan karena seni itu efisien, tetapi karena seni itu hidup. Bukan karena seni itu tahu jawabannya, tetapi karena seni itu membantu kita merenungkan pertanyaan-pertanyaan.


sumber: 

Only People Can Make Art - by Mary Pezzulo

https://medium.com/@CatrineNice/pressed-a-button-an-artist-how-ai-is-changing-copyright-law-f04c02d1a8e7

https://partotplan.substack.com/p/sorry-ai-art-isnt-a-skill?utm_source=%2Fsearch%2Fai%2520art&utm_medium=reader2

Pengaturan Hukum Artifical Intelligence Indonesia Saat Ini Oleh: Zahrashafa PM & Angga Priancha

https://www.hukumonline.com/berita/a/menyoal-aspek-hak-cipta-atas-karya-hasil-artificial-intelligence-lt641d06ea600d9/?page=2

Furious Protestor Tears AI-Generated Art Off Wall of Exhibit, Chews It Up Into Tiny Shreds Using His Teeth

Pelindungan Hak Cipta dalam Penggunaan AI: Studi Kasus Animasi Ghibli Oleh: Silvia Fibrianti Kecerdasan buatan (Artificial IntelArtists Amoako Boafo, Hans Haacke and Deborah Butterfield among thousands to sign statement against AI content scraping

#TolakGambarAI: Perlawanan Seniman Lokal terhadap Maraknya Penggunaan AI Di Dunia Seni - Sketsa Universitas Mulawarman

The link between art and life - by Henry Oliver

Art and creativity as an antidote to AI? - by Matt Oliver

Read More
ruang segiempat ruang segiempat

Menjadi Spesialis Tanpa Harus Membunuh Sisi Generalis

Pernah dengar atau membaca kalimat “Jack of all trades, master of none”?

Sepertinya kalimat itu akan relate dengan para perupa muda yang semuanya serba dilakukan, bisa saja sambil menulis, mendesain, melukis atau mungkin membuat konten di pekan hari. 

Terkadang hingga hari ini menjadi si “Jack” terlihat seperti orang yang berantakan, tidak fokus dan tidak konsisten pada bidangnya. Keresahan ini terlihat bagi mereka yang memiliki latar belakang lintas disiplin, contohnya mungkin ada lulusan seni rupa yang kemudian terjun ke dunia desain produk digital. Ada ketakutan besar bahwa menampilkan terlalu banyak sisi akan membuat kita terlihat tidak fokus.

Strategi self-branding dan pemilihan karier multidisiplin bagi lulusan seni rupa ternyata  sering kali menjadi strategi cara bertahan hidup dan tetap relevan di bidan seni. Jika kita jujur pada realitas lapangan, banyak perupa muda menjadi multidisiplin karena dorongan latar belakang ekonomi yang mendesak.

Di awal karier, seorang perupa dihadapkan pada jenjang yang tidak instan. Menurut R. E. Hartanto di dalam artikelnya yang berjudul “Menjadi Perupa Profesional”, selama pengalamannya 20 tahun menjadi perupa, untuk bisa eksis di panggung seni nasional dibutuhkan waktu setidaknya 2 hingga 3 tahun. Selama masa itu, alih-alih mendatangkan uang, aktivitas seni seperti riset konsep, eksperimen material, hingga pameran justru sering kali "membuang" uang. Padahal, kebutuhan hidup juga tidak bisa menunggu pameran laku terjual. Di sinilah para perupa muda mempertemukan idealisme dan realitasnya.

Fenomena ini menjelaskan mengapa banyak lulusan seni rupa akhirnya merambah ke bidang lain, mungkin salah satu contoh paling dekatnya adalah desain. Desain bisa menjadi solusi multidisiplin untuk menjawab tantangan ekonomi. Industri desain yang berkembang cepat menawarkan dimensi ekonomi yang lebih stabil dibandingkan ketidakpastian pasar seni rupa kontemporer. Latar belakang seni rupa memberikan modal kepekaan estetika dan kemampuan konseptual yang kemudian "dipinjamkan" ke dunia desain atau industri kreatif lainnya yang lebih cepat menghasilkan uang secara rutin.

Namun sebenarnya menjadi si “Jack” ternyata bukan berarti kamu “tersesat”, ini mungkin berarti kamu adalah seorang manusia yang memiliki banyak layer dan berani untuk mencoba karena memiliki rasa penasaran yang tinggi. Masalahnya bukan terletak pada banyaknya kemampuan yang dimiliki, melainkan pada bagaimana membangun narasi di atas keberagaman tersebut.

Menjadi seorang “Jack” ada pro yang paling terlihat, adalah menemukan solusi dengan mudah pada suatu masalah karena problem solving membutuhkan kreatifitas. Serupa dengan Levain di penelitiannya dengan pernyataan,

“Ketika individu-individu dari latar belakang, keahlian, dan sudut pandang yang berbeda berkumpul, mereka membawa wawasan unik dan pendekatan pemecahan masalah yang beragam. Integrasi berbagai bidang pengetahuan ini mendorong inovasi dengan memicu pemikiran baru, kreativitas, dan eksplorasi jalur-jalur yang tidak konvensional. Pendekatan kolaboratif dan inklusif ini meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, sehingga memungkinkan kita untuk menghadapi tantangan dengan sudut pandang yang lebih luas dan lebih mendalam.”

Hari ini, semuanya bisa bergerak cepat. Muncul tools baru, industri baru, hingga cara bekerja yang baru seiring dengan semakin terintegrasinya AI ke dalam berbagai sistem, alur kerja, dan proses pengambilan keputusan. Dalam konteks seperti ini, pertanyaan-pertanyaan yang penting tidak lagi semata-mata bersifat teknis, pertanyaan-pertanyaan tersebut juga berkaitan dengan tata kelola, etika, akses, dan dampaknya. Pada keadaan itu, ada celah untuk mempelajari hal baru dan karena itu juga hanya mengandalkan pada satu hal rasanya hampir tidak mungkin. 

Mampu belajar, berpindah, beradaptasi dan fleksibel dengan berbagai bidang memang adalah sebuah kekuatan. Tapi juga bisa memunculkan pertanyaan besar, haruskah kita menggunakan satu persona branding yang sama untuk semua pekerjaan, atau memisahnya sesuai bidang yang dituju? Di sini, terdapat beberapa sudut pandang yang bisa menjadi ruang diskusi menarik.

Di satu sisi, “multidisiplin” adalah sebuah istilah umum yang merujuk kepada pemanfaatan artistik untuk membangun kredibilitas jangka panjang. Dengan “multidisiplin”, latar belakang seni rupa murni tetap bisa bersinar sebagai pondasi karakter, sementara keahlian desain menjadi instrumen praktisnya. Konsistensi ini membuat orang mengenal sebagai pribadi yang utuh. Sebagai contoh, kolaborasi keilmuan desain dengan keilmuan lain dibutuhkan untuk menghasilkan luaran yang memiliki nilai lebih dan kebertahanan untuk berkontribusi lebih luas pada pengembangan ekonomi kreatif dan daya saing bangsa.

Namun, di sisi lain, strategi ini memiliki risiko jika tidak dikelola dengan kurasi yang baik. Manajer perekrutan atau klien sering kali hanya memiliki waktu beberapa detik untuk memindai portofolio. Jika mereka mencari seorang desainer UI yang sistematis namun disuguhi tumpukan lukisan ekspresionis yang emosional tanpa konteks, mereka mungkin akan merasa pengaju proyek salah alamat. Kontra lainnya adalah seorang multidisiplin tidak bisa relate ketika diharuskan hanya fokus pada niche pasar tertentu. Untungnya bagi kita, zaman yang kita jalani saat ini memiliki tempat bagi kita semua, para multidisiplin, seperti “Jack”. 

Dengan keadaan tadi, itulah mengapa teknik kurasi menjadi sangat krusial untuk seorang “Jack”. Solusi praktisnya adalah dengan membuat beberapa versi portofolio yang disesuaikan dengan audiens target, namun tetap memiliki benang merah kepribadian yang konsisten. Jika melamar posisi desainer, tonjolkan kemampuan riset dan logika desain, namun jangan ragu untuk menyisipkan bagaimana intuisi artistik dari dunia seni rupa ternyata membantu menciptakan komposisi visual yang lebih harmonis. Sebaliknya, jika sedang mengejar proyek ilustrasi, tunjukkan sisi eksploratifnya, namun tetap dengan profesionalisme seorang desainer yang paham tenggat waktu dan kebutuhan pasar.

Kemampuan lintas bidang sebenarnya membuktikan bahwa seseorang bisa menjadi pemikir yang fleksibel. Seorang “Jack” mampu memecahkan masalah di bidang desain dengan perspektif unik dari dunia seni rupa. Ini adalah tentang menunjukkan bagaimana keahlian di bidang A memberikan nilai tambah yang tidak terduga di bidang B. Branding diri yang kuat bagi seorang pemula bukan berarti mempersempit diri, melainkan belajar cara bercerita agar keberagaman kemampuan tersebut adalah sebuah nilai yang kuat dan hal itu jugalah yang menjadi modal untuk memunculkan inovasi.

Tokoh-tokoh besar seperti Steve Jobs yang mencampurkan desain, psikologi, dan seni ke dalam teknologi Apple. Atau Virgil Abloh yang membawa arsitektur dan musik ke dunia fashion. Mereka membuktikan bahwa rasa ingin tahu bukanlah sebuah kebingungan, melainkan bahan bakar kreativitas. 

Menariknya, kebutuhan akan pendekatan multidisiplin ini tidak hanya berlaku untuk sebuah proyek desain, tetapi juga sangat relevan untuk membangun ketahanan diri kita sebagai manusia.

“Sebaiknya kita tuh punya berbagai macam identitas, jadi kalau misalnya ada salah satu identitas yang runtuh, kita masih punya identitas-identitas lain untuk menopang diri kita, jadi kita nggak sepenuhnya hancur.” - Zahid Ibrahim

Sejalan dengan keresahan tentang specialist vs generalist, sosok Zahid Ibrahim melalui bukunya “Multiidentitas” memberikan perspektif yang sangat kuat. Zahid menekankan bahwa memiliki berbagai identitas adalah strategi untuk menjaga kewarasan. Bayangkan jika kamu menaruh seluruh harga diri hanya pada satu keranjang, misalnya identitas sebagai "mahasiswa berprestasi". Ketika nilai rapor turun atau performa di kelas memudar, seluruh bangunan dirimu akan runtuh karena tidak memiliki identitas lain selain “mahasiswa berprestasi” untuk menopang beban tersebut.

Konsep multiidentitas ini adalah landasan utama untuk membangun jati diri yang autentik. Dalam narasinya, Zahid mengajak kita meninjau ulang definisi kemenangan. Menjadi berbeda dan memiliki keunikan lintas bidang sering kali jauh lebih penting daripada sekadar menjadi yang terbaik di satu bidang sempit. Identitas yang berlapis membuat seseorang lebih adaptif dan fleksibel dalam memilih jalan hidup. Anda tidak harus menjadi satu hal selamanya.

Di dalam bukunya, Zahid membedah konflik antara monoidentitas dan multiidentitas. Fokus pada satu peran saja sering kali menjebak kita dalam zero-sum game, di mana nilai diri kita terus-menerus dibandingkan dengan orang lain berdasarkan validasi eksternal. Sebaliknya, pendekatan multiidentitas mengajak kita menetapkan batas kompetensi minimum pada area esensial, lalu mendedikasikan sisa waktu untuk passion dan peran lain yang bermakna.

Orang sering lupa kutipan lengkapnya: "Jack of all trades, master of none, but oftentimes better than master of one."

Jadi, untuk para perupa muda yang sedang merasa “Kok aku jadi kemana-mana ya?”, kamu tidak sedang tersesat, kamu bukan tidak konsisten, tapi kamu sedang “memperluas kemungkinan”. 

Menjadi "kemana-mana" bukanlah sesuatu yang salah, melainkan sesuatu yang patut dirayakan karena kamu berarti penuh dengan potensi namun belum terpetakan saja jalannya.

Jadi, apa pelajaran paling berharga yang pernah didapatkgan sebagai seorang multidisiplin?


Sumber:

Levain, R. (2023). Embracing the power of the multidisciplinary approach breaking boundaries and fostering innovation. JBR Journal of Interdisciplinary Medicine and Dental Science, 6(3), 39-42.

Jack of all trades, master of none | by notesfromcat | Medium

Jack of All Trades, Master of None: The Myth That Needs to Go | by My Equation | Medium

https://dgi.or.id/read/news/desain-multidisplin-dalam-industri-kreatif.html

https://fathimaalthaf.medium.com/i-didnt-leave-tech-i-just-refused-to-be-average-in-it-abcf4912a066

What is a Multidisciplinary Artist?

What is a Multidisciplinary Creative?

Mulai Bangun Multi Identitas | Ibrahim Zahid | TikTok

Zahid Ibrahim Rilis Buku 'Multiidentitas', Angkat Keberagaman Jadi Kunci Bangun Diri Autentik - Bandar Lampung Post

Menjadi Perupa Profesional – Klinik Rupa Dokter Rudolfo

Read More
ruang segiempat ruang segiempat

Portofoliomu Isinya Apa?

Terkadang terasa sulit atau bingung untuk memulai mempresentasikan diri sebagai seniman, walaupun sudah memasukan semua file ke dalam portofolio, malah terabaikan menumpuk karena tidak mendapatkan respon dari kurator galeri. 

Coba bayangkan, kamu sudah menyiapkan segalanya hingga puluhan file karya, berbagai gaya, berbagai medium. Semuanya kamu kirim. Dan beberapa hari kemudian, sebuah email masuk dengan kalimat "Setelah melalui proses kurasi dan mengingat kapasitas ruang yang terbatas, dengan berat hati kami informasikan bahwa karya kamu tidak terpilih." atau dighosting. 

Rasanya? Campur aduk. Tapi mungkin, sebelum kita tanya “Kenapa mereka tidak pilih aku ya?” ada baiknya kita tanya dulu “Apa yang sebenarnya mereka lihat?”

Kita mungkin bisa melihat dari posisi kurator, setiap harinya, dia dihadapkan dengan tumpukan portofolio atau proposal residensi dari seniman-seniman lain. Waktu yang dia punya terbatas, energinya pun demikian. Dalam hitungan menit, bahkan mungkin detik, kurator sudah dapat memutuskan apakah sebuah portofolio layak lanjut atau tidak. Bukan karena dia tidak menghargai usahamu, tapi karena itu memang ritme kerja yang terbentuk dari volume pekerjaan yang besar.

 “Seharusnya, tidak perlu semua dimasukkan, cukup yang terbaik saja.” mungkin seperti itu ucap kurator dalam hati ketika melihat isi portofolio yang tidak efisien.

Jadi, kalau kamu memasukkan puluhan file sekaligus, bukan kesan "berpengalaman" yang muncul, tapi kebingungan. Tidak ada fokus. Tidak ada benang merah yang bisa ditarik kurator untuk memahami siapa kamu sebagai seniman.

Menarik, ya? 

Memang secara harfiah, kata portofolio memang berasal dari port (laporan) dan folio (lengkap). Tapi "lengkap" di dunia profesional punya arti yang berbeda dari sekadar "semua dimasukkan". Lengkap di sini artinya, cukup untuk mewakili siapa kamu, tidak lebih dan tidak kurang.

Ada dua jenis portofolio yang bisa kamu pahami agar bisa membuat portofolio yang efisien dan unggul. Pertama, portofolio proses (process oriented) yang menunjukkan perjalanan dari sketsa kasar hingga menjadi karya jadi. Kedua, portofolio hasil (product oriented) yaitu, hasil yang hanya memamerkan produk terbaik tanpa mempedulikan proses di baliknya.

Masing-masing punya kekuatan dan kelemahannya sendiri. Tidak ada yang salah secara mutlak, hanya saja, pemilihannya perlu disesuaikan dengan konteks dan tujuanmu.

Setelah pemaparan tadi, apakah kamu sudah mulai bimbang antara harus mengisi portofoliomu dengan semua hasil karyamu atau hanya memasukan karya-karya terbaikmu saja?

Kalau kamu sedang berada di awal karier dan masih membangun nama, portofolio proses atau pengalaman residensi bisa jadi poin yang menarik. Sangat dipahami jika sewaktu awal-awal membuat portofolio kamu memasukkan semua hasil kerjamu agar terlihat memiliki banyak pengalaman dan merasa aman. 

Hal tadi semakin relevan karena hari ini, untuk membuat visual yang “sempurna” saja tanpa konteks, AI pun bisa membuat itu dengan mudah dan murah. Kalau kamu hanya menawarkan hasil visual yang bagus, kamu sedang berkompetisi dengan sesuatu yang tidak tidur dan tidak butuh makan.

Terus kamu harus menyantumkan apa kalau visual yang sempurna saja bisa dibuat oleh AI?

Jawabannya adalah alur berpikir dan kemampuan kamu menyelesaikan masalah di dalam proses berkarya tersebut. Itu yang tidak bisa dibuat oleh AI dan itu juga yang dapat membedakan kamu dengan seniman yang lain.

Kamu juga tidak perlu mengirim hingga puluhan file ke dalam portofolio, tiga hingga lima karya terbaik menjadi jumlah yang sangat cukup untuk mewakilkan siapa diri kamu di dalam portofolio, karena kualitas selalu lebih baik daripada kuantitas.

Selain persoalan visual, narasi juga menjadi poin yang paling penting untuk membangun sebuah portofolio.

Kenapa harus memberikan narasi di dalam portofolio?

Singkatnya, visual tanpa makna itu sama saja hampa.

Di dalam narasi, kamu bisa membagikan apa jawabanmu dari sebuah masalah, solusi yang ditawarkan dan bagaimana dampaknya. Jangan juga terlalu terjebak dengan penggunaan bahasa yang terlalu berat saat menulis pernyataan. Katakan saja apa yang sudah kamu buat dan kenapa kamu membuatnya dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti.

Agar lebih profesional lagi, kamu juga bisa menambahkan biografi singkat. Mulai dengan satu kalimat jelas tentang siapa kamu dan fokus karyamu. Kalau kamu seorang seniman muda yang baru memulai karier, tekankan pada pameran terbaru atau program kompetitif yang pernah kamu ikuti.

Meski tak menjamin sukses instan, portofolio yang baik adalah bentuk cerminan dari seberapa siap kamu mempresentasikan diri kepada audiens yang lebih luas. Karya hebat butuh presentasi yang hebat. Jangan biarkan portofoliomu jadi sekadar kumpulan gambar.

Jadi, sudahkah kamu menyiapkan portofoliomu tahun ini?


Yasa, I. W. A. P. (2020). PORTFOLIO DIGITAL PADA ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0. Kapita Selekta Citraleka Desain 2020: Dialektika Seni, Desain, dan Kebudayaan Pada Era Revolusi Industri 4.0, 123.

Pinto, M. R., Viola, S., Onesti, A., & Ciampa, F. (2020). Artists residencies, challenges and opportunities for communities’ empowerment and heritage regeneration. Sustainability, 12(22), 9651.

The AI Art Portfolio That Opens Doors: Five Elements Galleries Look For | by JM Bonthous | Medium

Design Hiring Has Changed. Here is How Your Portfolio Needs to Evolve. | by Marc Andrew | Apr, 2026

https://medium.com/design-bootcamp/why-your-portfolio-gets-ignored-and-how-to-fix-it-3c304ef010f3 

Read More
ruang segiempat ruang segiempat

Menjawab kebingungan pemula tentang urgensi dan langkah awal self-branding

Pernahkah kamu, sebagai perupa muda, melihat perupa lain yang secara teknis skill yang dimilikinya setara dengan skillmu, tetapi dia jauh lebih “terlihat” dan memiliki audiens yang banyak? 

Tetapi sebenarnya jawaban dari pertanyaan itu tidak hanya tentang skill atau kemampuan teknismu lho, melainkan pada bagaimana dia membangun identitasnya di mata publik, atau istilahnya adalah “self-branding”.

Istilah self-branding atau personal branding ini mungkin pernah kamu dengar, ternyata istilah ini diperkenalkan oleh Tom Peter dalam artikelnya yang berjudul “The Brand Called You”, di dalam artikel ini Tom Peter memiliki argumen jika setiap individu memiliki kekuatan untuk menjadi “brand” dan “marketer” bagi diri mereka sendiri.  Selain itu, menurut Khamis pada jurnalnya yang berjudul “Self-branding, ‘micro-celebrity’ and the rise of Social Media Influencers”, menyebut self-branding sebagai cara individu mengembangkan citra publik untuk mendapatkan nilai budaya maupun ekonomi. Sederhananya, jika kamu tidak membentuk narasi tentang siapa itu kamu, maka orang lain yang akan melakukannya untukmu.

Kita sekarang hidup di era di mana kecerdasan buatan atau AI bisa menghasilkan gambar dalam hitungan detik. Standar visual "bagus" menjadi sangat murah karena bantuan teknologi. Lalu, jika semua hal teknis bisa menjadi sempurna, apa yang akan tetap berharga dalam sebuah karya seni? Jawabannya adalah manusia di baliknya.

Untuk memahami bagaimana branding bekerja, mari kita tengok beberapa seniman Indonesia yang telah sukses memetakan jalan mereka.

Muchlis Fachri, atau Muklay adalah contoh sukses bagaimana seni visual bisa sangat cair masuk ke berbagai media, mulai dari baju, motor, hingga tumbler. Dengan gaya pop-surealis yang nyentrik dan warna-warna cerah, Muklay terinspirasi dari pop culture dan kehidupan perkotaan yang serba cepat. Karya-karya milik Muklay merefleksikan kekacauan dan kecemasan dunia hari ini dengan gaya yang eksentrik. 

Saat ini Muklay cenderung fokus memublikasikan karya di media sosial Instagram (@muklay), hal tersebut menjadi salah satu aspek dalam pembentukan personal branding, yaitu Muklay sebagai seorang visual artist jika dilihat dari akun Instagramnya yang konsisten mengunggah karya yang dihasilkan dan kegiatan sehari-harinya. Selain itu, Muklay membungkus identitasnya sebagai seseorang yang transparan, dalam artian Muklay memilih untuk menjadi dirinya sendiri tanpa memaksakan publik untuk memberi tanggapan positif. Lebih jauh lagi, sosial media dimanfaatkan Muklay dalam berkomunikasi dengan pengikutnya yang tidak dapat melihat karyanya secara langsung.

Berbeda dengan Muklay, Arkiv Vilmansa adalah bukti bahwa latar belakang arsitektur bisa masuk ke dalam ruang seni kontemporer yang lebih luas lagi. Karyanya banyak terinspirasi dari street art, toys, fashion, nature dan kenangan masa kecil menjadi jangkar utamanya untuk berkarya. Contohnya, Arkiv Vilmansa memiliki karakter ikonik yang bernama 'Mickiv'. Karakternya terinspirasi dari memori masa kecil terhadap Mickey Mouse, menjadi identitasnya selama bertahun-tahun. 

"Kecintaan saya terhadap Mickey Mouse berkembang terus. Pengin bikin karakter Mickey Mouse dan itu mendorong saya terjun di dunia ini," kata Arkiv kepada Tempo di Galeri Nasional Indonesia, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat, 21 Februari 2025.

Konsistensinya pada garis yang tegas dan warna-warna vibrant, Arkiv menggunakan Instagram (@arkivvilmansa) dan website pribadinya sebagai galeri digital dan brand story telling yang menghubungkannya langsung dengan para pengikutnya.

Atreyu Moniaga membangun branding-nya sebagai seorang mentor sekaligus pencerita yang magis, ia menunjukkan bahwa branding tidak hanya soal "saya", tapi soal "apa yang saya kontribusikan".

Seperti pada tahun 2024 kemarin, pameran Atreyu Moniaga Project: Mixed Feelings “Ad Maiora”, Atreyu berhasil memperkenalkan 3 seniman perempuan yaitu, Clasutta, Zita Nuella, dan Tusita Mangalani yang sedang menggapai mimpinya menjadi seniman profesional. Melalui Atreyu Moniaga Project (AMP), sebuah inisiatif seni, Atreyu Moniaga memberikan wadah pembinaan dan berkarya bagi seniman muda untuk memperluas keragaman ekspresi artistik mereka sejak 2013. Atreyu menekankan pentingnya membangun personal branding, terutama bagi mereka yang ingin berkembang di bidang seni dan kreatif. Keharusan memahami bagaimana menghadapi kritik, navigasi penolakan, dan menjadi pribadi yang dapat dipercaya menjadi hal-hal penting bagi seniman muda.

Ia menunjukkan bahwa seniman yang lengkap bukan hanya yang jago melukis, tapi juga yang berkarakter  dan punya kemampuan bicara di depan publik.

Dengan menunjukan proses kerja, kegagalan, hingga sketsa-sketsa yang kamu buat dengan berantakan itu justru membuat orang lain merasa lebih relate secara emosional, karena ketidaksempurnaan itu terasa lebih manusia. Di pasar yang jenuh dengan hasil olahan AI, kejujuran perasaanmu sebagai manusia justru menjadi keunggulan kompetitif yang tak bisa ditiru mesin.

"Kalau begitu aku Harus Mulai dari Mana?"

Ketika kamu membuat self branding, kamu tidak hanya menunjukan hasil-hasil kerjamu. Kamu juga membagikan prosesnya, kesulitannya, maknanya, mungkin hingga curhatan kamu di dalam proses itu. Intinya, kamu sedang membuktikan kamu adalah seorang manusia yang hadir. 

Jadilah jelas dengan identitasmu

Langkah awal dalam branding adalah menentukan jawaban dari pertanyaan "siapa kamu?". Tidak perlu menjadi segalanya, seperti Arkiv Vilmansa yang memilih memori masa kecil, ia dapat mengembangkan itu menjadi sebuah karakter yang bernama “Mickiv”. Tunjukkan bagaimana nilai-nilaimu bisa tercantum dalam karya. Biarkan orang melihat bagaimana kamu hadir dan memberikan nilai tambah di bidang tersebut.

Berkomitmen untuk konsisten

Self-branding membutuhkan waktu dan usaha yang lama. Konsistensi di sini bukan berarti kamu harus posting tentang proses berkaryamu setiap jam, tapi konsistensi di sini adalah tentang membangun rasa percaya publik dalam jangka panjang. Atreyu Moniaga telah membuktikannya sejak tahun 2013 melalui inisiatif AMP. Ketika kamu muncul secara rutin dengan pemikiran yang bermakna, orang-orang akan mulai mengenali "suaramu". Konsistensi Atreyu melalui program seperti Mixed Feelings, ia secara rutin hadir untuk membina para perupa muda agar siap di dunia profesional sebagai bentuk kontribusinya menjadi seorang seniman dan sekaligus mentor. 

Keaslianmu menjadi aset utama

Jika kamu tidak membentuk narasi tentang siapa dirimu dan apa yang kamu perjuangkan, orang lain atau keadaan yang akan mengisi celah tersebut. Muklay memilih untuk menjadi dirinya sendiri, transparan dan apa adanya. Ia tidak memaksakan publik untuk selalu menyukainya, namun ia membagikan kegiatan sehari-harinya dengan jujur. Inilah yang membuat pengikutnya merasa memiliki koneksi personal.

Keterlihatan membuka pintu kesempatan

Kamu mungkin sangat berbakat, tapi jika tidak "terlihat", kesempatanmu akan terbatas. Keterlihatan (visibility) menciptakan keberuntungan. Banyak kolaborasi besar lahir karena mereka melihat konsistensi dan karakter seseorang. Seperti yang sudah disebutkan, Muklay menggunakan Instagram sebagai jembatan komunikasi langsung dengan peminat karyanya, Arkiv menggunakan galeri digital dan website sebagai bentuk profesionalisme agar tetap terlihat di pasar global dan Atreyu menggunakan pameran dan proyek inkubasi untuk "memperkenalkan" wajah-wajah baru ke industri.

Ketiga seniman ini membuktikan bahwa bakat saja tidak cukup jika tidak "terlihat". Keterlihatan bukan berarti kamu pamer, tapi upaya agar karakter dan karya-karyamu dapat ditemukan oleh peluang.

Pada akhirnya, self-branding adalah tentang menciptakan koneksi.

Di era yang penuh dengan hasil AI, ketidaksempurnaan kita, suara kita dan keunikan perspektif kita menjadi keunggulan, karena self-branding tidak perlu menjadi seseorang yang sempurna, tetapi lebih kepada bagaimana kamu bisa dengan jelas menyampaikan nilai tambahmu kepada yang lain sebagai manusia.

Portofolio mungkin menunjukkan apa yang bisa kamu lakukan, tapi self-branding menunjukkan siapa kamu sebenarnya.

Sumber:

Liu, R., & Suh, A. (2017). Self-branding on social media: An analysis of style bloggers on Instagram. Procedia computer science, 124, 12-20.\

Khamis, S., Ang, L., & Welling, R. (2017). Self-branding,‘micro-celebrity’and the rise of social media influencers. Celebrity studies, 8(2), 191-208.

Rahmatunisa, S., & Febriani, E. (2019). Strategi Public Relations Dalam Membangun Personal Branding Seniman Visual (Studi Deskriptif Kualitatif Strategi Public Relations Dalam Membangun Personal Branding Muklay Sebagai Seniman Visual). KOMUNIKOLOGI: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi, 16(2).

https://medium.com/authority-magazine/the-power-of-personal-branding-alison-maloni-of-alison-may-communications-on-how-publicists-shape-dc97767496de

https://medium.muz.li/the-human-premium-why-personal-branding-is-the-new-portfolio-in-2026-b3a97a389b70

Muchlis Fachri Alias Muklay: Profil, Karir & Kolaborasi dengan 3Second

https://jaff-filmfest.org/id/jaff20-transfiguration-memperkenalkan-artwork-jaff20-karya-seniman-muklay-wulang-sunu/

MUKLAY

ARTJOG 2024 - Atreyu Moniaga

Atreyu Moniaga Project: Ruang Penuh Dukungan bagi Seniman Muda untuk Bertumbuh | Grafis Masa Kini

Arkiv Vilmansa: Dari Seni Kontemporer Mickey Mouse ke Satwa Laut | tempo.co

Arkiv Vilmansa

Arkiv, Mickiv, dan Masa Kecil

Read More
ruang segiempat ruang segiempat

Melihat Peran Museum Lebih Luas

Hari Museum Nasional diperingati setiap tanggal 12 Oktober memiliki sejarah yang berkaitan erat dengan perkembangan museum di Indonesia.

Secara legal, Pemerintah Indonesia melalui PP RI No. 66 Tahun 2015 mejelaskan peran museum, yaitu untuk melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, hingga mengomunikasikannya kepada masyarakat. Jadi, museum bukan sekadar "gudang edukasi," tapi juga ruang rekreasi dan pelestarian identitas budaya.Banyak dari kita masih menghadapi anggapan jika museum adalah tempat untuk "melihat", bukan untuk "berbuat". Kita datang sebagai penonton pasif yang menyerap informasi satu arah dari papan informasi. 

Secara tradisional, museum kita memang berperan sebagai ruang konservasi. Fokus utamanya adalah menjaga agar artefak tidak rusak dimakan usia. Namun, sisi kontranya, format satu arah ini kerap terasa membosankan bagi generasi muda. Bagi Gen-Z yang akrab dengan internet, mereka mendambakan interaksi yang menarik, bukan sekadar melihat pajangan. Riset oleh Puspasari dkk dengan judul “Diskusi Kelompok dalam Menjawab Tantangan Pengelolaan Museum dengan Perspektif Museum Modern”, menekankan bahwa museum tradisional harus bertransformasi menjadi museum yang modern dan mengadopsi teknologi digital. Pengunjung ingin pengalaman yang serba mudah dan menarik. Tantangannya adalah bagaimana menjaga keapikan artefak asli sambil memberikan ruang interaksi tanpa membuat museum terasa seperti taman bermain biasa?

Jika kita menengok ke museum-museum besar di luar negeri, seperti Metropolitan Museum of Art di New York, pemandangannya bisa sangat berbeda. Mereka menyediakan kegiatan menggambar di museum (Drop-in Drawing at The Met Cloisters) yang merupakan praktik sekaligus menjadi metode observasi objek. Melalui aktivitas ini, para perupa dan para pengunjung tidak hanya melihat, tetapi "menyerap" teknik para maestro secara bawah sadar dengan dampingan pengajar seni. Secara teknis, memindahkan tiga dimensi ke atas kertas, mereka dapat belajar tentang anatomi, bayangan, dan komposisi secara langsung dari sumbernya. Di sana, pengunjung tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi juga pelaku aktif yang berdialog melalui kegiatan menggambar.

Namun, membawa konsep "museum sebagai ruang kerja kreatif" ke Indonesia tentu bukan tanpa tantangan. Di sini, manajemen museum menghadapi persimpangan yang rumit. Di satu sisi, ada tuntutan untuk bertransformasi menjadi museum modern yang ramah digital dan interaktif. Di sisi lain, ada protokol konservasi yang sangat terikat dengan prosedur keamanan. 

Oleh karena itu, banyak museum membatasi penggunaan tinta atau cat untuk kegiatan museum drawing. Alasannya sederhana, yaitu menjaga keamanan artefak. Inilah mengapa pensil biasanya menjadi satu-satunya media yang diizinkan untuk para pelukis di galeri

Tantangan manajemen museum menjadi semakin kompleks ketika fungsinya diperluas. Jika museum dijadikan ruang belajar yang lebih luas, seperti tempat diskusi publik, lokasi sketsa bersama, hingga pusat kreativitas digital, pengelola harus bisa menyeimbangkan antara keterbukaan dan keamanan. Bagaimana mengatur alur pengunjung agar mereka yang sedang menggambar tidak menghalangi jalan orang lain? Bagaimana memastikan atmosfer tetap tenang?

Beberapa museum hari ini sedang mencoba membuka pintunya lebih lebar, mengajak kita untuk tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga menjadi partisipan yang menghidupkan kembali nilai-nilai lama melalui sudut pandang baru dan juga agar lebih inklusif terhadap komunitas kreatif.

Melihat perkembangan peran museum yang mulai terbuka sebagai ruang kreatif, apakah menurut kamu museum-museum di Indonesia sudah siap menghadapi keramaian pengunjung yang ingin berlama-lama melukis atau berdiskusi di sana?

Key takeaway references: 

Puspasari, S., Adesta, E. J. T., & Alie, M. Diskusi Kelompok dalam Menjawab Tantangan Pengelolaan Museum dengan Perspektif Museum Modern.

Museum Drawing: Unlocking Creativity and Observation in Hallowed Halls

Are You Allowed to Sketch in Museums? A Comprehensive Guide to Museum Drawing Policies, Etiquette, and Benefits

A Guide to Drawing in Galleries and Museums - Jackson's Art Blog

https://www.moma.org/momaorg/shared/pdfs/docs/learn/courses/Hubard_Activities_in_the_Art_Museum.pdf

Drawing In the Museum – Drawing Out Ideas | NSEAD 

Workshops and activities - The Metropolitan Museum of Art

Read More
ruang segiempat ruang segiempat

Harga Tiket Museum Nasional Naik 100%, Buat Siapa Sih?

Ada yang masih ingat dengan kenaikan harga tiket Museum Nasional hingga 100% yang memicu pro kontra dari publik?

Per 1 Januari 2026 kemarin tiket reguler masuk Museum Nasional Indonesia (MNI) resmi disesuaikan menjadi Rp50.000 untuk kategori dewasa. Angka ini naik dua kali lipat dari tarif sebelumnya yang hanya Rp25.000. 

Langkah ini memicu kegaduhan di media sosial, terutama setelah Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, membandingkan tarif tersebut dengan museum di Eropa yang bisa mencapai Rp235.000 hingga Rp1,3 juta. Sontak, netizen pun terbelah. Ada yang mencibir karena perbandingan per kapita yang dianggap tidak apple to apple dengan Eropa, namun ada juga yang membela demi kualitas museum yang lebih "wah".

Bagi beberapa orang yang sedang memulai karier sebagai seniman atau mahasiswa seni, memahami "dapur" manajemen museum ini penting. Sebab, museum bukan hanya tempat yang menyimpan koleksi barang masa lalu, tapi juga tempat ekosistem yang menentukan bagaimana karya seni dihargai dan dirawat.

Banyak dari kita iri melihat British Museum di London atau Smithsonian di Amerika yang membebaskan biaya masuk. Namun, "gratis" di sana bukan berarti tanpa biaya. Di Inggris, pemerintah memberikan subsidi masif karena museum dianggap aset vital pariwisata.

Selain itu, mereka memiliki skema endowment fund atau dana abadi. Dana ini dikumpulkan dari donasi korporasi besar yang kemudian dikelola secara profesional di pasar modal. Hasil keuntungannya itulah yang membiayai operasional museum. 

Di Indonesia, kondisinya cukup kontras. Selama ini museum pemerintah sangat bergantung pada APBN. Padahal, anggaran negara harus dibagi dengan hal mendesak lain seperti infrastruktur dan kesehatan. Akibatnya, museum sering terjebak dalam kondisi "hidup segan mati tak mau" dengan fasilitas yang ala kadarnya.

Transformasi Museum Nasional Indonesia (MNI) menjadi Badan Layanan Umum (BLU) menuntut lembaga ini lebih mandiri. Dengan hadirnya sistem ini pihak MNI mengutamakan pelayanan, karena MNI juga wajib meningkatkan fasilitas lagi demi kenyamanan pengunjung.

Tantangan serupa juga dirasakan pengelolaan museum di kota lain, seperti Yogyakarta. Komisi D DPRD DIY terus menggodok Raperda Tata Kelola Museum untuk memastikan museum bukan sekadar tempat penyimpanan artefak, melainkan destinasi wisata unggulan. Salah satu contoh sukses adalah Museum Sonobudoyo. Dengan tarif Rp10.000 untuk dewasa lokal, Sonobudoyo berhasil menjadi salah satu museum dengan koleksi terlengkap setelah MNI. Kualitas manajemennya pun diakui melalui Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025. Prestasi ini tak lepas dari dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik dari pemerintah yang dialokasikan sebesar Rp169,97 miliar pada tahun 2025 untuk membantu operasional museum di seluruh Indonesia dan alokasi Dana Keistimewaan (Danais) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui transfer ke daerah (TKD).

Di sisi lain, meski kenaikan tiket MNI terdengar berat, pendukung kebijakan ini melihat sisi positif dari aspek kualitas. Harga tiket yang naik dianggap sebagai bentuk "donasi" pengunjung untuk pelestarian seni. Dengan tarif Rp50.000, pengunjung yang datang akan lebih terseleksi dan menghargai suasana museum.

Adapun pernyataan Stephen Parkinson, mantan menteri warisan budaya Inggris, pernah menyatakan bahwa membebankan biaya masuk justru merusak upaya perluasan akses budaya. Kekhawatiran terbesarnya adalah museum menjadi tempat eksklusif yang hanya bisa dinikmati kelas menengah ke atas. Apalagi pendapatan per kapita Indonesia masih jauh di bawah Eropa, membandingkan harga tiket secara mentah menjadi dianggap tidak relevan.

Untungnya, manajemen MNI tidak menutup mata sepenuhnya. Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin, menegaskan bahwa akses gratis tetap diberikan bagi lansia, penyandang disabilitas, pemegang KIP/KIP Kuliah, hingga anak yatim piatu. Bahkan, area non-tiket (gratis) yang mencakup halaman, aula, tempat makan, dan masjid diperluas dari 3.000 meter persegi menjadi 8.000 meter persegi, lengkap dengan fasilitas masjid dan perpustakaan baru.

Bagi para perupa muda, dilema ini memberikan pelajaran tentang manajemen seni. Sebuah institusi butuh dana besar untuk menjaga marwah sebuah karya, namun ia juga butuh publik untuk tetap relevan.

Beberapanya ada yang mengusulkan jalan tengah, seperti sistem bayar seikhlasnya atau menyediakan hari-hari tertentu dengan akses sepenuhnya gratis. Ini bertujuan agar museum tetap berkelanjutan secara finansial tanpa harus mengorbankan inklusivitas pengunjung.

Sebagai penikmat dan perupa seni, bagaimana sudut pandang kamu? 

Sumber:

Entry fee would ‘undermine foundational principle’ of national museums 

Klarifikasi soal Harga Tiket Museum Nasional Indonesia yang Naik, DPR Akan Pantau 

Tiket Museum Nasional Naik 100 Persen, Pengelola Ungkap Alasan dan Rencana Perbaikan

https://x.com/BigAlphaID/status/2006946200650658280?s=20 

Dari Andi Bayou Museum, Komisi D Perkuat Arah Kebijakan Pengelolaan Museum - e-Parlemen DPRD DIY.

Selamat, Dua Museum Jogja Meraih Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025 Tahap II

Uang Kita dalam Bentuk Danais dan DAK Nonfisik BOP MTB Dorong Museum Sonobudoyo Menuju Kelas Dunia 

Upah Minimum Regional - Tabel Statistik - Badan Pusat Statistik Provinsi DI Yogyakarta

Read More
Searsa Maheswari Searsa Maheswari

Harus Alumni Sekolah Seni untuk Berkarir di Industri Seni Rupa?

Saat kita berkunjung ke ruang pameran seni rupa mungkin mata kita cenderung terpaku pada karya seniman dan caption text di bawahnya yang berisi nama seniman serta keterangan karya. Lainnya, kita menebak-nebak atau bertanya “Seniman ini lulusan kampus seni mana ya?”.

Lalu ketika melihat tata peletakan karya, tata pencahayaan, teks kuratorial, poster hingga penyusunan jadwal acara yang proper di sebuah pameran, apakah pertanyaannya sempat menjadi lanjutan “Siapa ya yang menyusun konsep pameran hingga hal teknis lainnya?”

Hal-hal teknis itu mungkin juga dilakukan oleh seseorang lulusan sekolah seni.

Selama ini, ada miskonsepsi bahwa lulusan seni rupa atau pelaku industri seni otomatis menjadi pelukis. Ibaratnya, menganggap industri film hanya berisi aktor. Tanpa sutradara, produser, penata cahaya, hingga distributor, sebuah film tidak akan pernah sampai ke layar bioskop. Begitu pula dengan seni rupa.

Seniman juga bisa saja dengan waktu yang bersamaan bekerja sebagai art director, kurator, archivist di museum atau galeri. Lebih banyak lagi mungkin ada pengajar seni di sekolah-sekolah. Hal ini membuktikan jika seseorang lulusan sekolah seni tidak semuanya menjadi pelukis.

Realita di lapangan juga ternyata jauh lebih kompleks dan bahkan bisa melibatkan lintas sekolah seni. Sebuah pernyataan dari penelitian Candra Arista juga mengungkapkan jika Hanya sekitar 30% lulusan seni yang tetap teguh berkarya sebagai seniman independen. Sisanya? Mereka bukan tidak melanjutkan menjadi pelukis atau tidak menjadi seniman, mereka berkembang ke bidang yang lebih luas lagi, menjadi penggerak ekosistem yang sama krusialnya, bisa saja mereka memulai dari pendidik, kurator, hingga pekerja kreatif pendukung.

Hal ini menunjukkan bahwa karier di bidang seni rupa sangat dinamis dan membutuhkan diversifikasi keahlian, di mana peran sebagai tenaga pendidik atau pengelola seni (kurator) sama krusialnya dengan menjadi seniman itu sendiri. Pada masa ini industri seni rupa sudah berevolusi menjadi ekosistem besar yang membutuhkan banyak keahlian teknis lainnya.

Lalu siapa saja yang ada di belakang layar sebuah pameran seni rupa? 

Di sebuah pameran biasanya ada seorang kurator yang memegang gagasan konsep pameran. Untuk menjadi seorang kurator biasanya tidak hanya dapat memahami teknik menggambar, lebih dari itu seorang kurator biasanya seseorang yang mendalami sejarah seni, sosiologi hingga teori kritis. Seorang kurator mampu menyusun sebuah narasi dari hasil riset agar relevan dengan sosial dan publik. Kurator jugalah yang memiliki tanggung jawab untuk memilih karya dan mempresentasikannya di galeri atau museum. Adapun karya seorang kurator di pameran yang selalu berada di dinding khusus teks kuratorial. Teks kuratorial ini pula yang dapat menjembatani pemahaman dan terjemahan konsep pameran kepada publik. Kemampuan kepekaan kurator dapat membentuk pengalaman publik terhadap seni.

Lalu, ada Manajer Galeri dan Art Dealer yang menjadi pelengkap dalam ekosistem seni. Jika dapat disederhanakan secara bahasa, mereka ini adalah marketing. Profesi ini mempelajari bagaimana kemampuan negosiasi dan menganalisis pasar itu diperlukan untuk menjual karya seni.  

Bagi mereka yang menyukai aspek teknis, peran Art Handler dan Restorator menjadi sangat penting. Seorang Art Handler bertanggung jawab penuh atas keselamatan karya. Mereka harus paham ilmu logistik, standar keamanan asuransi, hingga cara menangani material sensitif. Sementara itu, Restorator bekerja di persimpangan antara seni dan sains. Mereka menggunakan teknik kimia untuk merawat kanvas yang mulai rapuh atau warna yang memudar akibat usia, memastikan nilai sejarah karya tersebut tetap terjaga tanpa mengubah orisinalitasnya.

Menariknya, industri seni rupa hari ini justru sedang membuka pintu lebar-lebar. Seni rupa hari ini tidak hanya butuh orang yang bisa menggambar, tapi juga orang yang paham teknologi, hukum, manajemen dan lain-lain yang berhubungan dengan peran di belakang layar sebuah pameran.

Salah satu contoh momennya adalah saat dunia IT bersinggungan dengan seni rupa. Pameran seni imersif "Van Gogh Alive" di Jakarta (terakhir diadakan di Mal Taman Anggrek pada Juli-Oktober 2023) menyuguhkan pengalaman multisensori, memproyeksikan ribuan karya ikonik Vincent van Gogh ke dinding, lantai, dan langit-langit ruangan. Pada pameran itu membutuhkan creative programmer untuk mengolah proyeksi visual.

Jika pada ilmu medis dan seni, mereka dapat beririsan di profesi Medical Illustrator. Jika seniman melukis biasanya menghadirkan interpretasi emosional, seorang ilustrator medis menghadirkan visual yang lebih fungsional, lebih detailnya adalah anatomi manusia, fisiologi, hingga patologi sekelas mahasiswa kedokteran. Pada profesi ini seorang ilustrator haruslah seseorang yang menguasai anatomi dan menyampaikan informasi melalui visual agar mudah dicerna untuk publik.

Selain itu, Menurut laporan data terbaru dari Art Basel & UBS Global Art Market Report 2025, nilai penjualan seni dan barang antik global pada tahun 2024 diperkirakan mencapai USD 57,5 miliar atau sekitar Rp920 triliun. Dan menariknya, banyak tokoh berpengaruh di dunia seni justru bukan berangkat dari sekolah seni. Contohnya, Larry Gagosian, salah satu art dealer paling kuat di dunia, justru memulai kariernya dengan berjualan poster di pinggir jalan dan memiliki latar belakang pendidikan Sastra Inggris.


Sebagai Co-Founder dan Fair Director dari ArtMoments Jakarta, Sendy Widjaja adalah salah satu sosok paling berpengaruh dalam aspek komersial seni rupa saat ini. Menariknya, latar belakang pendidikannya bukan dari seni rupa, melainkan Teknik Industri. Ia membawa pola pikir sistematis dan manajerial dari dunia teknik untuk mengelola salah satu art fair terbesar di Indonesia, membuktikan bahwa skalabilitas pameran seni sangat membutuhkan keahlian manajemen operasional.

Menurut kamu, dalam industri seni rupa hari ini, mana yang lebih 'mahal' harganya? jago bikin karya atau punya jejaring networking yang luas untuk menggerakkan ekosistem?


Maulida, A. R., Supendi, N. A. F. F., Zufar, A., & Iklima, P. D. (2025). The Perception of elementary school students’ parents toward the profile of an artist and an art educator: Persepsi orang tua siswa sekolah dasar terhadap profil seniman dan pendidik seni. Sungging: Journal of Innovative, Cultural, Transdisciplinary Art and Kriya Discourse, 4(1), 53-78.

To become a painter, is it important to have a fine arts degree? - Quora 

Heboh Van Gogh Alive The Experience di Jakarta, Begini Sejarah Pameran Imersif di Kancah Seni Rupa 

https://www.instagram.com/p/DQbHyKAElI_/ 

Read More
Searsa Maheswari Searsa Maheswari

Karir Seni Berbenturan dengan Ekspektasi Orang Tua

Sepertinya pengalaman ditanya “Habis lulus mau jadi apa?” adalah pengalaman umum semua perupa muda, apalagi pertanyaan itu menjembatani pertanyaan lain seperti, “Emang kalo kamu jadi seniman cari uangnya gimana?”

Benturan antara orang tua dan anak ini dapat ditarik kepada perbedaan perkembangan zaman. Pada masa ini, mungkin orang tua para perupa muda adalah orang tua yang lahir pada generasi baby boomers atau generasi x. Di mana pada masa generasi itu, keamanan finansial hanya berada pada sektor formal seperti PNS, BUMN atau Karyawan Swasta.


Para orang tua para perupa muda juga mungkin masih memiliki pandangan jika seniman adalah individu yang hanya memiliki keterampilan menggambar.


Padahal, seniman seni rupa hari ini adalah sosok yang lebih dari orang yang sekedar memiliki keterampilan teknis, lebih dari itu ada keterlibatan ekspresi, konsep, dan pesan yang tersirat. Dari sini saja semuanya dapat memahami jika seni memiliki nilai ekspresi budaya yang tinggi, baik dari hal estetika dan filosofi.

Di sisi lain, apapun bentuknya yang dinamakan seni, pada lingkungan sosial hari ini masih ada anggapan jika seni hanyalah sarana untuk mengekspresikan diri dan sering kalah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Ada juga persepsi sosial tentang profesi seniman kerap dipandang sebelah mata karena dianggap sebagai kegemaran dibandingkan pekerjaan utama.

Di Indonesia sendiri profesi seniman sering menghadapi ketidakstabilan karena bergantung pada proyek jangka pendek. Kurangnya jaminan pada asuransi kesehatan dan dana pensiun membentuk pandangan sosial bahwa seni adalah bidang yang kurang menjanjikan.  


Bagi Boomers dan Gen X, kesuksesan sering kali disamakan dengan stabilitas jangka panjang dan dana pensiun yang terjamin. Profesi seperti UI/UX Designer, Concept Artist, atau Motion Graphic mungkin belum sampai sepenuhnya dalam kamus profesi mereka. Sehingga, pekerjaan informal atau yang berhubungan dengan seni rupa sering dianggap tidak memiliki masa depan ekonomi yang jelas.

Tapi, kita tidak bisa lagi menggunakan peta lama untuk menjelajahi dunia baru.

Pada hari ini pemerintah sudah memberikan dukungan untuk para seniman dalam bentuk program residensi, hibah dan pelatihan kewirausahaan yang dibutuhkan untuk menggerakkan ekosistem seni di Indonesia agar tetap berkelanjutan dan menjamin karir para seniman. Selain itu, galeri atau studio independen di Indonesia juga sudah banyak terbuka untuk melakukan kolaborasi dengan para seniman, kegiatan berkesenian seperti loka karya atau pameran juga sudah banyak mudah diakses untuk umum dengan tujuan dapat menjadi wadah mengenali tentang bidang seni lebih lanjut.

Kepala BPS juga menjelaskan jika PDB ekonomi kreatif Indonesia sejak tahun 2022 hingga tahun 2024 terus meningkat. Pada tahun 2024, nilai PDB ADHB sektor ekonomi kreatif adalah Rp1.611,2 triliun. Di mana kontribusi ekonomi kreatif terhadap ekonomi Indonesia meningkat, pada tahun 2024 ini pertumbuhan PDB ekraf mencapai 6,57 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,03 persen.

Artinya, dapat dikatakan jika seni pada masa sekarang sudah menjadi industri. Meningkatnya kontribusi berarti sektor ini bukan lagi sekadar "pendukung" atau "pelengkap" ekonomi nasional. Kreativitas sudah jadi komoditas utama, sekarang orang bisa sejahtera karena punya ide dan karya. Sebuah film sudah butuh ratusan seniman, sebuah aplikasi butuh para desainer dan sebuah brand juga membutuhkan ilustrator.

Sebenarnya, banyak orang tua yang menginginkan jika sektor seni bisa mendapatkan wadah yang lebih layak dalam kehidupan sehari-hari. Harapan ini juga menyangkut pada dukungan secara langsung dari lingkungan sosial. Jadi, bukan berarti orang tua tidak mau menyadari kemampuan anaknya untuk berkarya, tapi mereka menunjukan sifat protektifnya sebagai orang tua dengan mengkhawatirkan keamanan finansial anak kelak jika menjadi seorang seniman. Hal ini mencerminkan jika perlunya perubahan cara pandang pada seni rupa hari ini dengan meningkatkan dukungan terhadap sektor seni agar lebih diakui dan dihargai oleh sosial.


Langkah ini dapat dimulai dengan dukungan langsung melalui penciptaan ekosistem seni yang berkelanjutan, sebagai contoh, menyediakan ruang kreatif yang mudah diakses publik. Sebagai gambaran tambahan, beberapa kota besar di Indonesia sudah ada yang menyediakan ruang budaya, aktif bekerja sama dengan pemerintah dan swasta, hasilnya nilai seni dapat meningkat di mata publik.


Kemudian ada juga langkah seperti penguatan kolektivitas dan jejaring komunitas. Peningkatan dukungan ini dapat dilakukan melalui fasilitasi riset dan distribusi karya yang lebih merata. Seperti bagaimana inisiatif seni, Ruang Segiempat, menunjukkan bahwa pengakuan sosial didapat ketika seni mampu berinteraksi langsung dengan persoalan sosial. Dengan memposisikan seni sebagai alat problem-solving sosial, sektor ini akan secara otomatis mendapatkan legitimasi dan penghargaan yang lebih organik dari masyarakat.


Kalau kamu sendiri, apa argumen paling “ngena” yang pernah kamu sampaikan saat meyakinkan orang tua tentang pilihan kariermu di dunia seni? Share di kolom komentar, yuk!


Source:

Ekraf Tanah Air Semakin Menjanjikan, Menyerap 27,4 Juta Pekerja

5 Konflik Keluarga yang Sering Terjadi Karena Perbedaan Generasi | IDN Times

Mengapa dahulu para orang tua cenderung tidak menyarankan anaknya untuk bekerja dalam bidang kreatif? - Galeri Seni Quora 

Overcoming the Myth of the Contemporary “Starving Artist”: 

https://medium.com/art-marketing/to-the-parents-of-young-artists-bcdd9d0e2536

Maulida, A. R., Supendi, N. A. F. F., Zufar, A., & Iklima, P. D. (2025). The Perception of elementary school students’ parents toward the profile of an artist and an art educator: Persepsi orang tua siswa sekolah dasar terhadap profil seniman dan pendidik seni. Sungging: Journal of Innovative, Cultural, Transdisciplinary Art and Kriya Discourse, 4(1), 53-78.

Read More
ruang segiempat ruang segiempat

Beyond the White Cube: Exploring Art Spaces Today

It All Begins Here

Kapan kamu tahu kalo kerja di seni tu ga cuma di galeri?

Ruang seni tidak hanya hidup dalam lingkup yang formal seperti Galeri, ketika kita melangkah ke lingkungan yang lebih besar lagi kita bakal nemuin ruang-ruang yang awalnya kecil, bertumbuh, dan berkembang sekarang. Di ekosistem seni kita bakal cari tau lebih banyak tentang ruang ruang kolektif!

Dalam seni rupa kontemporer saat ini terdapat organisasi kolektif, Kolektif pertama yang ditunjuk sebagai artistik Documenta fifteen 2022 yaitu ruangrupa. yang mengangkat nilai nilai lokal, yang berfokus pada proses. Wacana seni dengan konteks lanskap budaya perkotaan, menumbuhkan semangat kolektif dengan kebebasan individu. ruru shop yang dibangun tahun 2011 lalu Gudang Sarinah Ekosistem (GSE) dukungan dan pembinaan bagi pertukaran ide kreativitas dan inovasi yang berkembang. 

Kolektif dengan fokus pada pendidikan non formal yaitu Serrum, adalah ruang berbagi. Remedial, edukasi non formalnya melibatkan SMA Jakarta yang telah dikurasi, membedah pola konsumsi informasi dan perkembangan pengetahuan hari ini. Project_Or residensi seniman lokal, pemilihan mahasiswa yang berbakat dan prestasinya dalam bidang seni, dengan mengembangkan teori dan logikanya, pembelajaran yang luas, dan pengembangan diri.

Kolektif seniman Grafis Huru Hara mengembangkan metode eksplorasi, eksperimentasi, dan edukasi seni grafis. Grafis Niaga lahir dari kebutuhan akan ruang pertemuan yang lebih dari transasi yang merangkul ekosistem studio kecil di Jakarta. Merespon pendidikan dengan membangun ruang belajar yang terbentuk dari banyak kolektif dengan nama Godskul.

Studi kolektif paling terkenal di ekosistem seni kontemporer, Gudskul yang berkomitmen pada kolektivitas dengan mempromosikan kebutuhan lokal. Mereplika sekolah Temujalar di jerman, yang menggunakan nongkrong sebagai metode pembelajaran. Modul yang diorganisir sendiri untuk mengelola sumber daya dengan batasan waktu kurang dari dua bulan.

Sebuah komunitas seni multidisipliner yang menyediakan ruang untuk pameran, Salihara ini berkolaborasi antar disiplin seni. LIFEs 2019 kolaborasi 6 seniman Indonesia dan enam seniman Balanda mengangkat tema dari masa lalu dengan bertumbuh lewat karya. Pameran hingga diskusi yang terjalin dengan lintas disiplin, yang konsisten mengembangkan dialog dan diskursus kritis. Ruang keberagaman ini dihadirkan untuk membuat anak muda lebih peduli terhadap isu negara saat ini.

Pameran seni rupa berskala besar yang diselenggarakan secara berkala yaitu Jakarta Biennale pameran seni rupa kontemporer tertua yang paling berpengaruh. Narasi histori, lanskap budaya dengan dialog berbagai isu sosial dan politik yang selalu dikembangan selama 50 tahun berdiri, hubungan dari banyaknya stakeholder, ruang-ruang publik dan komunitas memperluas jejaringnya.

Acara pameran dan festival seni dan desain Indonesia yaitu Contemporary Art & Design (ICAD) festival tahunan sebagai platform kolaborasi dan diskursus antar kreator pemikir lintas disiplin, salah satu kerja samanya di Budaya Qatar Indonesia 2023 dalam mengembangkan residensi yang menggabungkan kerajinan dan kontemporer design sampai menapaki jejak ke Milan Design Week. menghadirkan seni yang merespon zaman dan mengaburkan batas antara karya, ruang, dan penonton yang menunjukan pemikiran Indonesia di panggung global.

Diluar negeri juga terdapat kolektif yang berfokus pada residensi dan penelitian, ZK/U Berlin, Germany adalah praktik seni yang menekankan keterlibatan lokal dan pertukaran global. Dalam pertukaran internasionalnya berbicara tentang isu isu di negaranya sendiri, untuk mengenal bangsa sendiri di forum publik. Dan pengarsipan publik secara online.

Sama seperti itu, tempat eksperimen dan eksplorasi pun hadir dalam kolektif 98B COLLABoratory Manila, Philippines ruang independen platform diskursus kritis. kelas yang mewajibkan menjadi diri sendiri dengan pengalaman dan kontribusi seni kontemporer secara aktif melalui proyek-proyek inovatif. Sebagai rumah bagi seniman berkarya, seni untuk semua orang yang memudahkah seni untuk diakses bagi banyak orang.

Berasal dari kondisi yang membatasi, dua orang ini berkolaborasi untuk membantu seniman. PANIC (Promoting an Artist’ Network in the Crisis), Leeds UK kerja sama antar The Tetley dan Griselda Pollock pihak untuk menyalurkan bantuan untuk mendukung dunia seni dalam memberikan dana kepada seniman lokal yang sedang berkembang untuk terus berkarya saat COVID-19. In our times. Seniman yang mengeksplorasi fenomena kehidupan akibat krisis pandemi, pedulinya terhadap krisis psiko-sosial dan ketidakpastian ekonomi pada saat itu.

Setelah banyak kolektif membantu dalam proses berkembangnya seniman, ini dia kolektif yang membantu dalam awal bertumbuhnya karier seniman. TAAP (Tetley’s Associate Artist’ Programme), Leeds UK pengembangan seniman diawal karier, pendampingan yang dirancang khusus yang mendorong seniman generasi baru yang membuka peluang baru di Leeds dan Yorkshire. Seniman yang terpilih berkomitmen terhadap berpartisipasi dan pendidikan.

Keadaan pun tidak membatasi bagaimana seseorang bertumbuh salah satunya di PYRAMID, Leeds Based arts organisations, UK pengembangan dunia seni pada orang-orang disabilitas belajar dan autisme, membantu orang-orang menemukan seni, mengembangkan bakatnya dan menjadikan seniman kelas dunia, dan terdapat dukungan kreatif pengembangan profesional.

Ekosistem seni tidak hanya tumbuh di dalam galeri. Ia juga berkembang di luar ruang tersebut, didukung oleh jaringan yang luas dan beragam. Perkembangan ini muncul melalui kolaborasi dan melalui respons terhadap isu-isu lokal lewat pembelajaran non-formal.

Seni berkembang bukan karena sebuah tempat fisik, tetapi karena hubungan, proses, dan komunitas yang menjadi fondasinya. 

Dari sudut pandangmu, bagaimana kamu melihatnya? Apakah kamu sudah menemukan kolektif di sekitarmu? Ceritakan pengalamanmu di sini!


Read More
ruang segiempat ruang segiempat

Where Do You Belongs in The Art World

It All Begins Here

Hubungan antara seniman, kurator, kolektor, dan pengamat seni bisa sangat menentukan arah dan peran seorang seniman dalam perjalanannya.
Pada dasarnya, relasi yang beragam membentuk akses terhadap kesempatan, informasi, dan ruang belajar yang tidak selalu terbuka bagi semua orang.

Seorang seniman yang terhubung dengan kurator atau ruang bergengsi, misalnya, mungkin memiliki peluang lebih besar untuk tampil di pameran tertentu. Tapi di balik itu, yang paling penting bukan hanya siapa yang kita kenal, melainkan bagaimana hubungan itu membentuk cara kita berkembang.

Tempat di mana kita berpijak, dan dengan siapa kita bersosial, akan selalu mempengaruhi arah karier kita.

Lalu gimana sih kita tau kalau kita sudah berada di ruang yang tepat untuk bertumbuh? 

First, Know yourself better

Sebelum mendekati kurator, galeri, atau institusi manapun, fondasi utamanya adalah pemahaman diri sebagai seniman. Apa fokus karyamu? Apa value artistikmu? Apa persona artistik yang ingin kamu komunikasikan? Apa tujuan jangka pendek dan jangka panjang kariermu? 

Jika kamu mulai mengenal dirimu dan arah artistikmu, lalu menemukan ruang yang selaras dengan visi dan ritmemu, ini menjadi tanda pertama. Karena ruang yang tepat tidak membuatmu kehilangan identitas, tapi justru memperkuatnya.

Recognize your surrounding: 

Pahami ekosistem tempat kamu bergerak, komunitas, ruang seni, galeri, kurator, program, hingga pola dan kultur kerja di lingkungan tersebut. 

Dengan memahami konteks, kamu tidak bergerak secara buta. Kamu bisa membaca peluang dan memahami bagaimana posisimu dalam ekosistem tersebut. Karena ruang yang tepat akan mendukung proses kreatifmu, bukan menghambat atau mengubahmu menjadi sesuatu yang bukan dirimu. 

Building strategic relationship within it

approach each relationship with care.  Misal saat kamu berhubungan dengan kurator, apa fokus mereka? Project seperti apa yang mereka dukung? Lalu saat enganging dengan galeri, understand their roster and mission to see how your work fits within their program. When speaking with collectors, frame your work in a way that resonates with their interests and values, as it keeps the integrity with yours. Yang paling penting adalah mengetahui how, where, when, dan why kamu harus mendekati pihak tertentu. Setiap relasi butuh timing dan pendekatan yang berbeda.


Exchange and Grow

Setelah memahami diri dan lingkungan, tahap berikutnya adalah berani membuka diri pada berbagai peluang. Dunia seni selalu bergerak; kesempatan bisa muncul dari arah yang tidak terduga misal kurator baru, program kecil, open call komunitas, hingga percakapan spontan di sebuah event.

Berani mencoba: Jangan menunggu sempurna, terkadang kesempatan sering datang saat kita melangkah dulu.

Terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi, tidak semua peluang harus besar, bahkan proyek kecil dapat membuka jalan ke jaringan yang lebih luas.

Saling bertukar perspektif dan pengalaman: Relasi yang tumbuh dari dialog dan keterbukaan biasanya jauh lebih kuat dan alami.

Lihat setiap interaksi sebagai peluang bertumbuh: Baik secara artistik, profesional, maupun personal.

Dengan keberanian dan keterbukaan, kamu memberi ruang bagi dirimu untuk berkembang sekaligus memperluas kemungkinan dalam perjalanan karier seni.

Ruang yang tepat bukan selalu ruang yang besar, terkenal, atau bergengsi.
Ruang yang tepat adalah ruang yang mendorongmu untuk berkembang, menjaga integritas artistikmu, dan memberi kemungkinan baru tanpa mengikis dirimu.

Jika empat hal itu mulai kamu rasakan, maka kamu sedang berpijak di tempat yang benar, tempat di mana langkahmu selanjutnya dapat tumbuh dengan lebih mantap.


Read More
ruang segiempat ruang segiempat

How Galleries, Collectives, and Communities Interwine

It All Begins Here

Dunia seni dibangun di atas hubungan, kepercayaan serta profesionalisme. Jaringan-jaringan yang terhubung, dimana semua pihak saling terhubung, tindakan terhadap satu pihak dapat berdampak ke seluruh sistem. Bekerja dengan satu bagian di dunia seni berarti bekerja dengan semuanya.

Lingkungan seni tumbuh subur melalui kolaborasi, saling menghormati, dan keterlibatan strategis. Ekosistem ini tidak hanya mempresentasikan karya, tetapi juga membangun reputasi, jaringan dan karier. Semua tergantung pada karya seni dan cara berinteraksi dengan dunia di sekitarnya.

Galeri mencari seniman yang selaras dengan visi dan program galeri, memiliki potensi pasar yang menghargai kolaborasi dan komunikasi yang jelas. Melibatkan kurator yang ingin bekerja dengan seniman, yang memahami bahwa karya mereka adalah bagian dari narasi yang lebih luas lagi. Selain itu, terdapat kolektor yang menginginkan transparansi mengenai harga, proses, dan perjalanan artistik, ingin menjadi bagian dari perjalanan sebagai pendukung praktek seni yang terus berkembang.

Peran kolektif menciptakan ruang bagi suara dan perspektif beragam yang sering menjadi wadah bagi seniman marjinal untuk memperkuat narasi yang kurang terwakili. Kolektif seni di budaya kontemporer ini sangat penting karena mempromosikan inklusivitas, kreativitas, dan refleksi kritis terhadap tantangan sosial. Menyediakan ruang bersama dan peluang pertukaran kreatif yang memungkinkan anggota sebagai sumber daya, ide, dan keterampilan. 

Komunitas mencari seniman yang karyanya berkontribusi pada wacana kultural, historis, atau kontemporer yang mampu menjangkau audiens beragam dan memperkaya percakapan publik.

Dan sekarang dimana tempat kita?

Ruang berkarya

Galeri sebagai ruang formal untuk pameran, mengkurasi dan jual beli karya, dengan sistem yang terukur hasil dari capaian seorang seniman juga nilai setiap karyanya. 

Kolektif sebagai ruang semi formal, merupakan kolaborasi antara seniman yang sifatnya independen. Eksperimental dan solidaritas ini menjadi nilai utama yang dibangun dalam merangkai koneksinya. Terbuka dalam memberikan kebebasan untuk melakukan aktivitas kolaborasi tentatif di setiap perjalanannya. 

Komunitas menjadi ruang Interaksi, belajar, dan berbagi antara seniman dan masyarakat untuk melahirkan praktik seni yang berorientasi sosial terhadap isu-isu lokal dan berkontribusi pada perubahan sosial, dengan menyelenggarakan partisipasi berbentuk publik maupun dialog.

Ruang untuk

Galeri memberi ruang presentasi karya pada publik, penjualan, pasar seni, apresiasi, dan koleksi.

Kolektif seni lahir dari komunitas lokal, sebagai peran penting dalam keterlibatan masyarakat yang mengundang partisipasi publik dan dialog, karyanya hasil bersama berfokus pada penyampaian gagasan berisi kritis, sosial, atau politis.

Komunitas menjadi sumber tema, nilai, dan audiens seni, kecenderungan merespon lingkungan sosial, pengembangan jejaring dilakukan dengan edukasi dan solidaritas antar pelaku seni.

Posisi ruang

Dalam galeri posisi seniman sebagai representasi/klien galeri, bidang  komersial, dengan hubungan eksternal terhadap kolektor, publik, dan institusi dengan identitas kuratorial dan brand galeri. Contohnya Galeri Nasional Indonesia, ROH projects, White Cube.

Kolektif memposisikan seniman sebagai produsen bersama, berbasis proyek dan hibah, kolektif yang bersifat partisipatif dan dialogis, identitas kolektif adalah satu identitas artistik. Contoh kolektif seni ruangrupa, Serrum, Grafis Huru Hara.

Komunitas yang menjadikan seniman sebagai anggota jaringan, non-komersial, yang memiliki banyak identitas. Contohnya adalah komunitas Taring Padi, Jogja Disability Arts (JDA).

Saling berhubungan

Pada saat ini, banyak galeri yang membuka diri terhadap praktik kolektif yang menjadi penghubung antara kolektif komunitas dengan pasar seni. Kolektif sebagai ruang gagasan, kritik, yang seringnya membahas isu sosial, politik, budaya yang dimanfaatkan galeri untuk menjangkau audiens dengan pendekatan yang baru yang menciptakan dialektika antara pasar dan praktik kritis. Terdapat fenomena baru di wilayah urban, mencerminkan cara baru para seniman dan perilaku seni untuk berekspresi dan berkarya secara bersama-sama yang didasari nilai-nilai kesetaraan dan kolaborasi. komunitas menjadi ruang awal pembelajaran, diskusi, dan edukasi. Dengan itu, galeri sering menjalin relasi melalui workshop, open call, dan residensi komunitas yang mampu memperluas audiens di luar pasar elit.

Dengan galeri yang tidak lagi eksklusif secara fisik, kolektif semakin cair dan lintas disiplin, komunitas semakin aktif melalui platform daring.

Tidak hanya galeri tapi kolektif mampu tampil di kancah internasional, peluang yang dibuka dengan luas ini menampilkan banyak cara dalam memperluas koneksi dalam medan seni rupa. Ketiga ruang ini membentuk jaringan ekosistem yang saling bergantung. Hubungan yang bersifat dinamis, kolaboratif dan kontekstual.

Yang mana yang paling cocok untukmu? Beri tahu kami pendapatmu!

Kesimpulan

Interaksi antara seniman dan komunitas melahirkan praktik seni yang berorientasi sosial terhadap isu-isu lokal dan berkontribusi pada perubahan sosial yang memberikan ruang atau pun dukungan terhadap perkembangan karier mereka. 

Jejaring dan relasi ini mampu dibangun di dalam galeri maupun diluar galeri. Galeri sebuah ruang yang sudah dirancang, dengan capaian yang selalu bertumbuh di dalamnya. Kolektif menawarkan ruang baru yang mampu menantang dinamika pasar seni konvensional dan membuka peluang yang setara bagi seniman di luar galeri. Komunitas memberikan peluang yang besar terhadap dampak hubungan terhadap masyarakat sosial, kemudian dari semua itu hal-hal ini saling melengkapi untuk menjadi wadah bagi seluruh kreatifitas dunia seni di zaman ini.


Read More

Interest to Publish Your Work?

Kami membuka peluang bagi teman-teman yang memiliki ketertarikan dalam menulis kajian seni rupa untuk mempublikasikan karyanya dalam Ruang Kaji.