Karir Seni Berbenturan dengan Ekspektasi Orang Tua
Sepertinya pengalaman ditanya “Habis lulus mau jadi apa?” adalah pengalaman umum semua perupa muda, apalagi pertanyaan itu menjembatani pertanyaan lain seperti, “Emang kalo kamu jadi seniman cari uangnya gimana?”
Benturan antara orang tua dan anak ini dapat ditarik kepada perbedaan perkembangan zaman. Pada masa ini, mungkin orang tua para perupa muda adalah orang tua yang lahir pada generasi baby boomers atau generasi x. Di mana pada masa generasi itu, keamanan finansial hanya berada pada sektor formal seperti PNS, BUMN atau Karyawan Swasta.
Para orang tua para perupa muda juga mungkin masih memiliki pandangan jika seniman adalah individu yang hanya memiliki keterampilan menggambar.
Padahal, seniman seni rupa hari ini adalah sosok yang lebih dari orang yang sekedar memiliki keterampilan teknis, lebih dari itu ada keterlibatan ekspresi, konsep, dan pesan yang tersirat. Dari sini saja semuanya dapat memahami jika seni memiliki nilai ekspresi budaya yang tinggi, baik dari hal estetika dan filosofi.
Di sisi lain, apapun bentuknya yang dinamakan seni, pada lingkungan sosial hari ini masih ada anggapan jika seni hanyalah sarana untuk mengekspresikan diri dan sering kalah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Ada juga persepsi sosial tentang profesi seniman kerap dipandang sebelah mata karena dianggap sebagai kegemaran dibandingkan pekerjaan utama.
Di Indonesia sendiri profesi seniman sering menghadapi ketidakstabilan karena bergantung pada proyek jangka pendek. Kurangnya jaminan pada asuransi kesehatan dan dana pensiun membentuk pandangan sosial bahwa seni adalah bidang yang kurang menjanjikan.
Bagi Boomers dan Gen X, kesuksesan sering kali disamakan dengan stabilitas jangka panjang dan dana pensiun yang terjamin. Profesi seperti UI/UX Designer, Concept Artist, atau Motion Graphic mungkin belum sampai sepenuhnya dalam kamus profesi mereka. Sehingga, pekerjaan informal atau yang berhubungan dengan seni rupa sering dianggap tidak memiliki masa depan ekonomi yang jelas.
Tapi, kita tidak bisa lagi menggunakan peta lama untuk menjelajahi dunia baru.
Pada hari ini pemerintah sudah memberikan dukungan untuk para seniman dalam bentuk program residensi, hibah dan pelatihan kewirausahaan yang dibutuhkan untuk menggerakkan ekosistem seni di Indonesia agar tetap berkelanjutan dan menjamin karir para seniman. Selain itu, galeri atau studio independen di Indonesia juga sudah banyak terbuka untuk melakukan kolaborasi dengan para seniman, kegiatan berkesenian seperti loka karya atau pameran juga sudah banyak mudah diakses untuk umum dengan tujuan dapat menjadi wadah mengenali tentang bidang seni lebih lanjut.
Kepala BPS juga menjelaskan jika PDB ekonomi kreatif Indonesia sejak tahun 2022 hingga tahun 2024 terus meningkat. Pada tahun 2024, nilai PDB ADHB sektor ekonomi kreatif adalah Rp1.611,2 triliun. Di mana kontribusi ekonomi kreatif terhadap ekonomi Indonesia meningkat, pada tahun 2024 ini pertumbuhan PDB ekraf mencapai 6,57 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,03 persen.
Artinya, dapat dikatakan jika seni pada masa sekarang sudah menjadi industri. Meningkatnya kontribusi berarti sektor ini bukan lagi sekadar "pendukung" atau "pelengkap" ekonomi nasional. Kreativitas sudah jadi komoditas utama, sekarang orang bisa sejahtera karena punya ide dan karya. Sebuah film sudah butuh ratusan seniman, sebuah aplikasi butuh para desainer dan sebuah brand juga membutuhkan ilustrator.
Sebenarnya, banyak orang tua yang menginginkan jika sektor seni bisa mendapatkan wadah yang lebih layak dalam kehidupan sehari-hari. Harapan ini juga menyangkut pada dukungan secara langsung dari lingkungan sosial. Jadi, bukan berarti orang tua tidak mau menyadari kemampuan anaknya untuk berkarya, tapi mereka menunjukan sifat protektifnya sebagai orang tua dengan mengkhawatirkan keamanan finansial anak kelak jika menjadi seorang seniman. Hal ini mencerminkan jika perlunya perubahan cara pandang pada seni rupa hari ini dengan meningkatkan dukungan terhadap sektor seni agar lebih diakui dan dihargai oleh sosial.
Langkah ini dapat dimulai dengan dukungan langsung melalui penciptaan ekosistem seni yang berkelanjutan, sebagai contoh, menyediakan ruang kreatif yang mudah diakses publik. Sebagai gambaran tambahan, beberapa kota besar di Indonesia sudah ada yang menyediakan ruang budaya, aktif bekerja sama dengan pemerintah dan swasta, hasilnya nilai seni dapat meningkat di mata publik.
Kemudian ada juga langkah seperti penguatan kolektivitas dan jejaring komunitas. Peningkatan dukungan ini dapat dilakukan melalui fasilitasi riset dan distribusi karya yang lebih merata. Seperti bagaimana inisiatif seni, Ruang Segiempat, menunjukkan bahwa pengakuan sosial didapat ketika seni mampu berinteraksi langsung dengan persoalan sosial. Dengan memposisikan seni sebagai alat problem-solving sosial, sektor ini akan secara otomatis mendapatkan legitimasi dan penghargaan yang lebih organik dari masyarakat.
Kalau kamu sendiri, apa argumen paling “ngena” yang pernah kamu sampaikan saat meyakinkan orang tua tentang pilihan kariermu di dunia seni? Share di kolom komentar, yuk!
Source:
Ekraf Tanah Air Semakin Menjanjikan, Menyerap 27,4 Juta Pekerja
5 Konflik Keluarga yang Sering Terjadi Karena Perbedaan Generasi | IDN Times
Overcoming the Myth of the Contemporary “Starving Artist”:
https://medium.com/art-marketing/to-the-parents-of-young-artists-bcdd9d0e2536
Maulida, A. R., Supendi, N. A. F. F., Zufar, A., & Iklima, P. D. (2025). The Perception of elementary school students’ parents toward the profile of an artist and an art educator: Persepsi orang tua siswa sekolah dasar terhadap profil seniman dan pendidik seni. Sungging: Journal of Innovative, Cultural, Transdisciplinary Art and Kriya Discourse, 4(1), 53-78.