Menemukan Jalan Untuk Menjadi Perupa
Seni rupa memiliki ekosistem kerja yang sangat dinamis, sekaligus menantang. Munculnya pikiran seperti merasa terlalu tua untuk memulai, tidak punya waktu, atau takut investasi waktu dan modalmu terbuang sia-sia itu wajar saja jika membuat perupa sering merasa gelisah memikirkan masa depan karier.
Menjadi seorang perupa berarti berani menciptakan sesuatu yang bermakna bagi diri sendiri terlebih dahulu, lalu menentukan ke mana karya itu akan melangkah. Proses kreatif ini memang lambat, membingungkan, dan butuh waktu. Kadang kamu bingung harus berjalan kaki mencari inspirasi seperti Thoreau, atau berdiam diri menikmati keheningan seperti Monet. Di tengah kebingungan mencari jati diri, gangguan sekecil apa pun bisa membuyarkan konsentrasi. Namun, di bawah semua keraguan itu, kamu tahu bahwa kunci sukses adalah menjadi diri sendiri.
Mereka yang tidak punya panggilan jiwa yang kuat tidak akan tahan dengan kehidupan seorang perupa yang dilingkari ketidakpastian. Walaupun teorinya semua orang punya passion, pada kenyataannya in this economy, orang-orang selalu berebut pekerjaan demi mendapatkan penghasilan tetap. Tidak semua orang punya nyali untuk konsisten mengikuti passion tersebut.
Menurut pengalaman perupa senior R.E. Hartanto, karier seorang perupa itu berjalan secara berjenjang. Tahap pertama berada di tingkat nasional yang meliputi pusat seni seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Tahap berikutnya berlanjut ke tingkat regional Asia Tenggara yang mencakup Jakarta, Singapura, dan Manila. Titik-titik ini bisa Kamu sebut sebagai fase awal karier (early career).
Jenjang ini akan meluas ke tingkat regional Asia yang mencakup kota-kota besar seperti Beijing, Seoul, Gwang-ju, Tokyo, Yokohama, Fukuoka, Taipei, Shanghai, hingga Hong Kong. Fase ini disebut sebagai paruh karier (mid-career). Jika cakupan wilayah meluas lagi ke Asia-Pasifik, Kamu akan menambahkan kota Sydney, Melbourne, dan Brisbane dalam radar pameranmu. Puncaknya adalah tingkat internasional yang mencakup wilayah Eropa Barat dan kota-kota utama di Amerika Serikat. Ini merupakan fase puncak karier (top-career) seorang perupa.
Namun, jenjang karier ini tentu tidak selalu berjalan linear. Tidak apa-apa jika para perupa muda harus menempuh rute memutar dulu untuk bertahan hidup sambil terus belajar. Kamu bisa memilih bekerja di industri kreatif lain terlebih dahulu, dan setiap pilihan pekerjaan ini sebenarnya membawa keuntungan tersendiri untuk perkembangan senimu.
Misalnya, saat menjadi seorang artisan untuk seniman senior, para perupa muda bisa melatih sensibilitas artistik sekaligus membedah teknik studio tingkat lanjut secara langsung. Ketika memilih menjadi desainer grafis atau ilustrator korporat, para perupa muda mendapatkan kesempatan untuk melatih kedisiplinan eksekusi visual, belajar membaca selera publik, serta memahami manajemen proyek yang rapi. Sementara jika menjadi pengajar seni, para perupa muda bisa mengasah kembali pemahaman teoritis dan sejarah seni yang justru bisa memperkaya konsep karyamu sendiri.
Pekerjaan-pekerjaan ini memang berfungsi sebagai modal utama untuk mengumpulkan dana demi keberlangsungan karya pribadi. Namun lebih dari itu, bekerja di ranah komersial juga otomatis memperluas jaringan profesionalmu dengan orang-orang di luar sirkel seni rupa murni. Kamu tidak akan kehilangan identitas seni hanya karena bekerja di ranah ini.
Mari coba membaca ringkasan cerita perjalanan hidup sang maestro Affandi.
Affandi lahir di Cirebon pada tahun 1907 sebagai anak dari keluarga Kusuma. Ayahnya bekerja sebagai juru gambar peta tanah di sebuah pabrik gula di Cirebon. Masa kecil Affandi dipenuhi dengan petualangan khas anak kampung yang menyukai gerak dan tantangan, seperti bermain layang-layang, menonton sepak bola, dan mengagumi seni pertunjukan wayang kulit. Kedekatannya dengan dunia wayang kulit membuatnya sangat hafal dengan tokoh-tokohnya. Di antara semua karakter, ia paling mengidentifikasi dirinya dengan tokoh Sukosrono, sosok berwajah buruk rupa dan cacat namun memiliki hati jujur serta kesaktian yang luar biasa.
Affandi menempuh pendidikan dasar di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Indramayu dan lulus pada tahun 1925. Ia kemudian melanjutkan sekolah ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Bandung. Setelah lulus dari MULO pada tahun 1928, ia pindah ke Jakarta untuk belajar di Algemeene Middelbare School (AMS) bagian B. Selama bersekolah, fokus Affandi lebih banyak tercurah pada bakat menggambarnya daripada pelajaran akademis. Hasratnya yang menggebu-gebu untuk memperdalam ilmu seni rupa di Negeri Belanda harus kandas karena tidak mendapat restu dari kakaknya, Ir. Moh. Sabur. Kekecewaan ini menurunkan gairah belajarnya hingga ia gagal dalam ujian akhir AMS pada tahun 1931. Affandi akhirnya memilih untuk berhenti sekolah dan membulatkan tekad untuk hidup mandiri sebagai seorang seniman.
Perjalanan hidup Affandi sebagai pelukis tidak instan karena ia merupakan seorang otodidak murni tanpa latar belakang pendidikan akademi seni. Demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, ia sempat berkompromi dengan keadaan melalui berbagai pekerjaan. Ia pernah mengajar membaca dan menulis huruf latin di sebuah sekolah malam di Jakarta, tempat ia bertemu dengan Maryati yang kemudian menjadi istrinya pada tahun 1933. Pasangan ini kemudian pindah ke Bandung. Di kota tersebut, Affandi bekerja keras sebagai tukang cat papan nama toko, pembuat reklame bioskop, hingga menjadi portir di bioskop Elita. Melalui kedisplinan tinggi, ia membagi waktu sepuluh hari pertama setiap bulan untuk bekerja mencari uang, dan sisa hari dalam sebulan ia gunakan sepenuhnya untuk mengasah teknik melukisnya.
Titik terang dalam karier seninya mulai terlihat saat ia mengadakan pameran tunggal di Jakarta pada tahun 1940. Salah satu lukisannya dibeli oleh Safei Sumardjo, seorang pelukis lulusan Eropa, yang meramalkan bahwa Affandi memiliki masa depan cerah sebagai seniman. Komentar tersebut membakar semangat Affandi untuk terus berkarya tanpa takut pada kemiskinan. Bersama anak dan istrinya, ia kemudian pergi ke Bali untuk menangkap berbagai dinamika visual di sana. Kehidupan di Bali sempat terjeda saat Maryati jatuh sakit parah akibat salah suntik, yang memaksa mereka pindah ke Surabaya demi pengobatan. Di Surabaya, Affandi kembali bekerja sebagai buruh gambar reklame dan portir bioskop demi menyambung hidup. Setelah kondisi istrinya membaik, Affandi kembali ke Bali sendirian untuk mematangkan bakat seninya hingga masa pendudukan Jepang dimulai.
Pengalaman hidup yang penuh lika-liku, kedekatan dengan rakyat kecil, serta kecintaannya pada ketegangan visual memberikan pengaruh yang sangat mendalam terhadap karya-karya Affandi. Corak lukisannya tidak mengikuti gaya pemandangan alam yang indah dan komersial seperti mayoritas pelukis zamannya. Sebaliknya, ia melahirkan karya-karya ekspresionisme yang jujur, menangkap gerak, kelincahan, serta penderitaan nyata masyarakat terjajah. Ketertarikannya sejak kecil pada wayang kulit memberikan pengaruh besar pada gaya goresannya, di mana garis-garis dalam lukisan Affandi cenderung bergelung-gelung menyerupai lekukan wayang kulit. Emosi Affandi yang meledak-ledak saat berhadapan langsung dengan objek nyata di alam terbuka membuatnya mengembangkan teknik melukis yang sangat khas, yaitu menyapu warna langsung menggunakan jari tangan dan menumpahkan cat langsung dari tubenya ke atas kanvas. Konsistensi dan adaptabilitasnya dalam berkarya membawanya menjadi salah satu maestro seni lukis terbesar Indonesia yang dikenal luas di panggung internasional.
Kesimpulannya, tidak ada satu formula tunggal untuk mencapai kesuksesan di dunia seni rupa. Kunci utama untuk tetap bertahan adalah adaptasi dan konsisten. Kamu bebas memilih jalur karier yang paling sesuai dengan kondisi finansial serta idealisme yang kamu pegang saat ini, lalu mulailah membangun koneksi secara perlahan.
Bimbingan dari mentor dan pendidikan seni memang penting, tetapi ingatlah bahwa ada sebuah karya luar biasa di dalam dirimu yang sedang menunggu untuk dilahirkan. Hanya kamu yang bisa menciptakan karya tersebut, dan kamu adalah orang terbaik untuk melakukannya. Saat ini, semua alat, akses informasi, dan sumber daya sudah tersedia di depan mata. Kita sedang hidup di era kemudahan akses yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kamu hanya perlu memberikan izin pada dirimu sendiri untuk berani melangkah dan mulai berkarya.
Sumber:
Suhatno, (1985) Dr. H. Affandi: karya dan pengabdiannya. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Jakarta.
How to be an Artist - by Tala Schlossberg
Menjadi Perupa Profesional – Klinik Rupa Dokter Rudolfo
"You can't be an artist" - by Julia Crossland
Stop waiting for permission to call yourself an artist | by Mark Borthwick