Menjawab kebingungan pemula tentang urgensi dan langkah awal self-branding

Pernahkah kamu, sebagai perupa muda, melihat perupa lain yang secara teknis skill yang dimilikinya setara dengan skillmu, tetapi dia jauh lebih “terlihat” dan memiliki audiens yang banyak? 

Tetapi sebenarnya jawaban dari pertanyaan itu tidak hanya tentang skill atau kemampuan teknismu lho, melainkan pada bagaimana dia membangun identitasnya di mata publik, atau istilahnya adalah “self-branding”.

Istilah self-branding atau personal branding ini mungkin pernah kamu dengar, ternyata istilah ini diperkenalkan oleh Tom Peter dalam artikelnya yang berjudul “The Brand Called You”, di dalam artikel ini Tom Peter memiliki argumen jika setiap individu memiliki kekuatan untuk menjadi “brand” dan “marketer” bagi diri mereka sendiri.  Selain itu, menurut Khamis pada jurnalnya yang berjudul “Self-branding, ‘micro-celebrity’ and the rise of Social Media Influencers”, menyebut self-branding sebagai cara individu mengembangkan citra publik untuk mendapatkan nilai budaya maupun ekonomi. Sederhananya, jika kamu tidak membentuk narasi tentang siapa itu kamu, maka orang lain yang akan melakukannya untukmu.

Kita sekarang hidup di era di mana kecerdasan buatan atau AI bisa menghasilkan gambar dalam hitungan detik. Standar visual "bagus" menjadi sangat murah karena bantuan teknologi. Lalu, jika semua hal teknis bisa menjadi sempurna, apa yang akan tetap berharga dalam sebuah karya seni? Jawabannya adalah manusia di baliknya.

Untuk memahami bagaimana branding bekerja, mari kita tengok beberapa seniman Indonesia yang telah sukses memetakan jalan mereka.

Muchlis Fachri, atau Muklay adalah contoh sukses bagaimana seni visual bisa sangat cair masuk ke berbagai media, mulai dari baju, motor, hingga tumbler. Dengan gaya pop-surealis yang nyentrik dan warna-warna cerah, Muklay terinspirasi dari pop culture dan kehidupan perkotaan yang serba cepat. Karya-karya milik Muklay merefleksikan kekacauan dan kecemasan dunia hari ini dengan gaya yang eksentrik. 

Saat ini Muklay cenderung fokus memublikasikan karya di media sosial Instagram (@muklay), hal tersebut menjadi salah satu aspek dalam pembentukan personal branding, yaitu Muklay sebagai seorang visual artist jika dilihat dari akun Instagramnya yang konsisten mengunggah karya yang dihasilkan dan kegiatan sehari-harinya. Selain itu, Muklay membungkus identitasnya sebagai seseorang yang transparan, dalam artian Muklay memilih untuk menjadi dirinya sendiri tanpa memaksakan publik untuk memberi tanggapan positif. Lebih jauh lagi, sosial media dimanfaatkan Muklay dalam berkomunikasi dengan pengikutnya yang tidak dapat melihat karyanya secara langsung.

Berbeda dengan Muklay, Arkiv Vilmansa adalah bukti bahwa latar belakang arsitektur bisa masuk ke dalam ruang seni kontemporer yang lebih luas lagi. Karyanya banyak terinspirasi dari street art, toys, fashion, nature dan kenangan masa kecil menjadi jangkar utamanya untuk berkarya. Contohnya, Arkiv Vilmansa memiliki karakter ikonik yang bernama 'Mickiv'. Karakternya terinspirasi dari memori masa kecil terhadap Mickey Mouse, menjadi identitasnya selama bertahun-tahun. 

"Kecintaan saya terhadap Mickey Mouse berkembang terus. Pengin bikin karakter Mickey Mouse dan itu mendorong saya terjun di dunia ini," kata Arkiv kepada Tempo di Galeri Nasional Indonesia, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat, 21 Februari 2025.

Konsistensinya pada garis yang tegas dan warna-warna vibrant, Arkiv menggunakan Instagram (@arkivvilmansa) dan website pribadinya sebagai galeri digital dan brand story telling yang menghubungkannya langsung dengan para pengikutnya.

Atreyu Moniaga membangun branding-nya sebagai seorang mentor sekaligus pencerita yang magis, ia menunjukkan bahwa branding tidak hanya soal "saya", tapi soal "apa yang saya kontribusikan".

Seperti pada tahun 2024 kemarin, pameran Atreyu Moniaga Project: Mixed Feelings “Ad Maiora”, Atreyu berhasil memperkenalkan 3 seniman perempuan yaitu, Clasutta, Zita Nuella, dan Tusita Mangalani yang sedang menggapai mimpinya menjadi seniman profesional. Melalui Atreyu Moniaga Project (AMP), sebuah inisiatif seni, Atreyu Moniaga memberikan wadah pembinaan dan berkarya bagi seniman muda untuk memperluas keragaman ekspresi artistik mereka sejak 2013. Atreyu menekankan pentingnya membangun personal branding, terutama bagi mereka yang ingin berkembang di bidang seni dan kreatif. Keharusan memahami bagaimana menghadapi kritik, navigasi penolakan, dan menjadi pribadi yang dapat dipercaya menjadi hal-hal penting bagi seniman muda.

Ia menunjukkan bahwa seniman yang lengkap bukan hanya yang jago melukis, tapi juga yang berkarakter  dan punya kemampuan bicara di depan publik.

Dengan menunjukan proses kerja, kegagalan, hingga sketsa-sketsa yang kamu buat dengan berantakan itu justru membuat orang lain merasa lebih relate secara emosional, karena ketidaksempurnaan itu terasa lebih manusia. Di pasar yang jenuh dengan hasil olahan AI, kejujuran perasaanmu sebagai manusia justru menjadi keunggulan kompetitif yang tak bisa ditiru mesin.

"Kalau begitu aku Harus Mulai dari Mana?"

Ketika kamu membuat self branding, kamu tidak hanya menunjukan hasil-hasil kerjamu. Kamu juga membagikan prosesnya, kesulitannya, maknanya, mungkin hingga curhatan kamu di dalam proses itu. Intinya, kamu sedang membuktikan kamu adalah seorang manusia yang hadir. 

Jadilah jelas dengan identitasmu

Langkah awal dalam branding adalah menentukan jawaban dari pertanyaan "siapa kamu?". Tidak perlu menjadi segalanya, seperti Arkiv Vilmansa yang memilih memori masa kecil, ia dapat mengembangkan itu menjadi sebuah karakter yang bernama “Mickiv”. Tunjukkan bagaimana nilai-nilaimu bisa tercantum dalam karya. Biarkan orang melihat bagaimana kamu hadir dan memberikan nilai tambah di bidang tersebut.

Berkomitmen untuk konsisten

Self-branding membutuhkan waktu dan usaha yang lama. Konsistensi di sini bukan berarti kamu harus posting tentang proses berkaryamu setiap jam, tapi konsistensi di sini adalah tentang membangun rasa percaya publik dalam jangka panjang. Atreyu Moniaga telah membuktikannya sejak tahun 2013 melalui inisiatif AMP. Ketika kamu muncul secara rutin dengan pemikiran yang bermakna, orang-orang akan mulai mengenali "suaramu". Konsistensi Atreyu melalui program seperti Mixed Feelings, ia secara rutin hadir untuk membina para perupa muda agar siap di dunia profesional sebagai bentuk kontribusinya menjadi seorang seniman dan sekaligus mentor. 

Keaslianmu menjadi aset utama

Jika kamu tidak membentuk narasi tentang siapa dirimu dan apa yang kamu perjuangkan, orang lain atau keadaan yang akan mengisi celah tersebut. Muklay memilih untuk menjadi dirinya sendiri, transparan dan apa adanya. Ia tidak memaksakan publik untuk selalu menyukainya, namun ia membagikan kegiatan sehari-harinya dengan jujur. Inilah yang membuat pengikutnya merasa memiliki koneksi personal.

Keterlihatan membuka pintu kesempatan

Kamu mungkin sangat berbakat, tapi jika tidak "terlihat", kesempatanmu akan terbatas. Keterlihatan (visibility) menciptakan keberuntungan. Banyak kolaborasi besar lahir karena mereka melihat konsistensi dan karakter seseorang. Seperti yang sudah disebutkan, Muklay menggunakan Instagram sebagai jembatan komunikasi langsung dengan peminat karyanya, Arkiv menggunakan galeri digital dan website sebagai bentuk profesionalisme agar tetap terlihat di pasar global dan Atreyu menggunakan pameran dan proyek inkubasi untuk "memperkenalkan" wajah-wajah baru ke industri.

Ketiga seniman ini membuktikan bahwa bakat saja tidak cukup jika tidak "terlihat". Keterlihatan bukan berarti kamu pamer, tapi upaya agar karakter dan karya-karyamu dapat ditemukan oleh peluang.

Pada akhirnya, self-branding adalah tentang menciptakan koneksi.

Di era yang penuh dengan hasil AI, ketidaksempurnaan kita, suara kita dan keunikan perspektif kita menjadi keunggulan, karena self-branding tidak perlu menjadi seseorang yang sempurna, tetapi lebih kepada bagaimana kamu bisa dengan jelas menyampaikan nilai tambahmu kepada yang lain sebagai manusia.

Portofolio mungkin menunjukkan apa yang bisa kamu lakukan, tapi self-branding menunjukkan siapa kamu sebenarnya.

Sumber:

Liu, R., & Suh, A. (2017). Self-branding on social media: An analysis of style bloggers on Instagram. Procedia computer science, 124, 12-20.\

Khamis, S., Ang, L., & Welling, R. (2017). Self-branding,‘micro-celebrity’and the rise of social media influencers. Celebrity studies, 8(2), 191-208.

Rahmatunisa, S., & Febriani, E. (2019). Strategi Public Relations Dalam Membangun Personal Branding Seniman Visual (Studi Deskriptif Kualitatif Strategi Public Relations Dalam Membangun Personal Branding Muklay Sebagai Seniman Visual). KOMUNIKOLOGI: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi, 16(2).

https://medium.com/authority-magazine/the-power-of-personal-branding-alison-maloni-of-alison-may-communications-on-how-publicists-shape-dc97767496de

https://medium.muz.li/the-human-premium-why-personal-branding-is-the-new-portfolio-in-2026-b3a97a389b70

Muchlis Fachri Alias Muklay: Profil, Karir & Kolaborasi dengan 3Second

https://jaff-filmfest.org/id/jaff20-transfiguration-memperkenalkan-artwork-jaff20-karya-seniman-muklay-wulang-sunu/

MUKLAY

ARTJOG 2024 - Atreyu Moniaga

Atreyu Moniaga Project: Ruang Penuh Dukungan bagi Seniman Muda untuk Bertumbuh | Grafis Masa Kini

Arkiv Vilmansa: Dari Seni Kontemporer Mickey Mouse ke Satwa Laut | tempo.co

Arkiv Vilmansa

Arkiv, Mickiv, dan Masa Kecil

Next
Next

Melihat Peran Museum Lebih Luas