Menjadi Spesialis Tanpa Harus Membunuh Sisi Generalis
Pernah dengar atau membaca kalimat “Jack of all trades, master of none”?
Sepertinya kalimat itu akan relate dengan para perupa muda yang semuanya serba dilakukan, bisa saja sambil menulis, mendesain, melukis atau mungkin membuat konten di pekan hari.
Terkadang hingga hari ini menjadi si “Jack” terlihat seperti orang yang berantakan, tidak fokus dan tidak konsisten pada bidangnya. Keresahan ini terlihat bagi mereka yang memiliki latar belakang lintas disiplin, contohnya mungkin ada lulusan seni rupa yang kemudian terjun ke dunia desain produk digital. Ada ketakutan besar bahwa menampilkan terlalu banyak sisi akan membuat kita terlihat tidak fokus.
Strategi self-branding dan pemilihan karier multidisiplin bagi lulusan seni rupa ternyata sering kali menjadi strategi cara bertahan hidup dan tetap relevan di bidan seni. Jika kita jujur pada realitas lapangan, banyak perupa muda menjadi multidisiplin karena dorongan latar belakang ekonomi yang mendesak.
Di awal karier, seorang perupa dihadapkan pada jenjang yang tidak instan. Menurut R. E. Hartanto di dalam artikelnya yang berjudul “Menjadi Perupa Profesional”, selama pengalamannya 20 tahun menjadi perupa, untuk bisa eksis di panggung seni nasional dibutuhkan waktu setidaknya 2 hingga 3 tahun. Selama masa itu, alih-alih mendatangkan uang, aktivitas seni seperti riset konsep, eksperimen material, hingga pameran justru sering kali "membuang" uang. Padahal, kebutuhan hidup juga tidak bisa menunggu pameran laku terjual. Di sinilah para perupa muda mempertemukan idealisme dan realitasnya.
Fenomena ini menjelaskan mengapa banyak lulusan seni rupa akhirnya merambah ke bidang lain, mungkin salah satu contoh paling dekatnya adalah desain. Desain bisa menjadi solusi multidisiplin untuk menjawab tantangan ekonomi. Industri desain yang berkembang cepat menawarkan dimensi ekonomi yang lebih stabil dibandingkan ketidakpastian pasar seni rupa kontemporer. Latar belakang seni rupa memberikan modal kepekaan estetika dan kemampuan konseptual yang kemudian "dipinjamkan" ke dunia desain atau industri kreatif lainnya yang lebih cepat menghasilkan uang secara rutin.
Namun sebenarnya menjadi si “Jack” ternyata bukan berarti kamu “tersesat”, ini mungkin berarti kamu adalah seorang manusia yang memiliki banyak layer dan berani untuk mencoba karena memiliki rasa penasaran yang tinggi. Masalahnya bukan terletak pada banyaknya kemampuan yang dimiliki, melainkan pada bagaimana membangun narasi di atas keberagaman tersebut.
Menjadi seorang “Jack” ada pro yang paling terlihat, adalah menemukan solusi dengan mudah pada suatu masalah karena problem solving membutuhkan kreatifitas. Serupa dengan Levain di penelitiannya dengan pernyataan,
“Ketika individu-individu dari latar belakang, keahlian, dan sudut pandang yang berbeda berkumpul, mereka membawa wawasan unik dan pendekatan pemecahan masalah yang beragam. Integrasi berbagai bidang pengetahuan ini mendorong inovasi dengan memicu pemikiran baru, kreativitas, dan eksplorasi jalur-jalur yang tidak konvensional. Pendekatan kolaboratif dan inklusif ini meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, sehingga memungkinkan kita untuk menghadapi tantangan dengan sudut pandang yang lebih luas dan lebih mendalam.”
Hari ini, semuanya bisa bergerak cepat. Muncul tools baru, industri baru, hingga cara bekerja yang baru seiring dengan semakin terintegrasinya AI ke dalam berbagai sistem, alur kerja, dan proses pengambilan keputusan. Dalam konteks seperti ini, pertanyaan-pertanyaan yang penting tidak lagi semata-mata bersifat teknis, pertanyaan-pertanyaan tersebut juga berkaitan dengan tata kelola, etika, akses, dan dampaknya. Pada keadaan itu, ada celah untuk mempelajari hal baru dan karena itu juga hanya mengandalkan pada satu hal rasanya hampir tidak mungkin.
Mampu belajar, berpindah, beradaptasi dan fleksibel dengan berbagai bidang memang adalah sebuah kekuatan. Tapi juga bisa memunculkan pertanyaan besar, haruskah kita menggunakan satu persona branding yang sama untuk semua pekerjaan, atau memisahnya sesuai bidang yang dituju? Di sini, terdapat beberapa sudut pandang yang bisa menjadi ruang diskusi menarik.
Di satu sisi, “multidisiplin” adalah sebuah istilah umum yang merujuk kepada pemanfaatan artistik untuk membangun kredibilitas jangka panjang. Dengan “multidisiplin”, latar belakang seni rupa murni tetap bisa bersinar sebagai pondasi karakter, sementara keahlian desain menjadi instrumen praktisnya. Konsistensi ini membuat orang mengenal sebagai pribadi yang utuh. Sebagai contoh, kolaborasi keilmuan desain dengan keilmuan lain dibutuhkan untuk menghasilkan luaran yang memiliki nilai lebih dan kebertahanan untuk berkontribusi lebih luas pada pengembangan ekonomi kreatif dan daya saing bangsa.
Namun, di sisi lain, strategi ini memiliki risiko jika tidak dikelola dengan kurasi yang baik. Manajer perekrutan atau klien sering kali hanya memiliki waktu beberapa detik untuk memindai portofolio. Jika mereka mencari seorang desainer UI yang sistematis namun disuguhi tumpukan lukisan ekspresionis yang emosional tanpa konteks, mereka mungkin akan merasa pengaju proyek salah alamat. Kontra lainnya adalah seorang multidisiplin tidak bisa relate ketika diharuskan hanya fokus pada niche pasar tertentu. Untungnya bagi kita, zaman yang kita jalani saat ini memiliki tempat bagi kita semua, para multidisiplin, seperti “Jack”.
Dengan keadaan tadi, itulah mengapa teknik kurasi menjadi sangat krusial untuk seorang “Jack”. Solusi praktisnya adalah dengan membuat beberapa versi portofolio yang disesuaikan dengan audiens target, namun tetap memiliki benang merah kepribadian yang konsisten. Jika melamar posisi desainer, tonjolkan kemampuan riset dan logika desain, namun jangan ragu untuk menyisipkan bagaimana intuisi artistik dari dunia seni rupa ternyata membantu menciptakan komposisi visual yang lebih harmonis. Sebaliknya, jika sedang mengejar proyek ilustrasi, tunjukkan sisi eksploratifnya, namun tetap dengan profesionalisme seorang desainer yang paham tenggat waktu dan kebutuhan pasar.
Kemampuan lintas bidang sebenarnya membuktikan bahwa seseorang bisa menjadi pemikir yang fleksibel. Seorang “Jack” mampu memecahkan masalah di bidang desain dengan perspektif unik dari dunia seni rupa. Ini adalah tentang menunjukkan bagaimana keahlian di bidang A memberikan nilai tambah yang tidak terduga di bidang B. Branding diri yang kuat bagi seorang pemula bukan berarti mempersempit diri, melainkan belajar cara bercerita agar keberagaman kemampuan tersebut adalah sebuah nilai yang kuat dan hal itu jugalah yang menjadi modal untuk memunculkan inovasi.
Tokoh-tokoh besar seperti Steve Jobs yang mencampurkan desain, psikologi, dan seni ke dalam teknologi Apple. Atau Virgil Abloh yang membawa arsitektur dan musik ke dunia fashion. Mereka membuktikan bahwa rasa ingin tahu bukanlah sebuah kebingungan, melainkan bahan bakar kreativitas.
Menariknya, kebutuhan akan pendekatan multidisiplin ini tidak hanya berlaku untuk sebuah proyek desain, tetapi juga sangat relevan untuk membangun ketahanan diri kita sebagai manusia.
“Sebaiknya kita tuh punya berbagai macam identitas, jadi kalau misalnya ada salah satu identitas yang runtuh, kita masih punya identitas-identitas lain untuk menopang diri kita, jadi kita nggak sepenuhnya hancur.” - Zahid Ibrahim
Sejalan dengan keresahan tentang specialist vs generalist, sosok Zahid Ibrahim melalui bukunya “Multiidentitas” memberikan perspektif yang sangat kuat. Zahid menekankan bahwa memiliki berbagai identitas adalah strategi untuk menjaga kewarasan. Bayangkan jika kamu menaruh seluruh harga diri hanya pada satu keranjang, misalnya identitas sebagai "mahasiswa berprestasi". Ketika nilai rapor turun atau performa di kelas memudar, seluruh bangunan dirimu akan runtuh karena tidak memiliki identitas lain selain “mahasiswa berprestasi” untuk menopang beban tersebut.
Konsep multiidentitas ini adalah landasan utama untuk membangun jati diri yang autentik. Dalam narasinya, Zahid mengajak kita meninjau ulang definisi kemenangan. Menjadi berbeda dan memiliki keunikan lintas bidang sering kali jauh lebih penting daripada sekadar menjadi yang terbaik di satu bidang sempit. Identitas yang berlapis membuat seseorang lebih adaptif dan fleksibel dalam memilih jalan hidup. Anda tidak harus menjadi satu hal selamanya.
Di dalam bukunya, Zahid membedah konflik antara monoidentitas dan multiidentitas. Fokus pada satu peran saja sering kali menjebak kita dalam zero-sum game, di mana nilai diri kita terus-menerus dibandingkan dengan orang lain berdasarkan validasi eksternal. Sebaliknya, pendekatan multiidentitas mengajak kita menetapkan batas kompetensi minimum pada area esensial, lalu mendedikasikan sisa waktu untuk passion dan peran lain yang bermakna.
Orang sering lupa kutipan lengkapnya: "Jack of all trades, master of none, but oftentimes better than master of one."
Jadi, untuk para perupa muda yang sedang merasa “Kok aku jadi kemana-mana ya?”, kamu tidak sedang tersesat, kamu bukan tidak konsisten, tapi kamu sedang “memperluas kemungkinan”.
Menjadi "kemana-mana" bukanlah sesuatu yang salah, melainkan sesuatu yang patut dirayakan karena kamu berarti penuh dengan potensi namun belum terpetakan saja jalannya.
Jadi, apa pelajaran paling berharga yang pernah didapatkgan sebagai seorang multidisiplin?
Sumber:
Levain, R. (2023). Embracing the power of the multidisciplinary approach breaking boundaries and fostering innovation. JBR Journal of Interdisciplinary Medicine and Dental Science, 6(3), 39-42.
Jack of all trades, master of none | by notesfromcat | Medium
Jack of All Trades, Master of None: The Myth That Needs to Go | by My Equation | Medium
https://dgi.or.id/read/news/desain-multidisplin-dalam-industri-kreatif.html
https://fathimaalthaf.medium.com/i-didnt-leave-tech-i-just-refused-to-be-average-in-it-abcf4912a066
What is a Multidisciplinary Artist?
What is a Multidisciplinary Creative?